"Kalau secara umum, pencegahan yang bisa dilakukan ya seperti pecegahan terhadap kanker yang lainnya, yaitu hidup sehat, makan makanan yang sehat dan jangan mengandung pengawet, olahraga, serta konsumsi iodium secukupnya. Meski pun tiroid itu banyak yang disebabkan oleh kekurangan iodium, bukan berarti boleh berlebihan juga ya iodiumnya," tutur dr Wismandari Wisnu, SpPD-KEMD kepada detikHealth dan ditulis pada Senin (21/4/2014).
Terkait kekhawatiran masyarakat mengenai faktor genetik yang sangat mungkin menurunkan kanker tiroid, dr Wismandari mengatakan bahwa hal itu memang sebenarnya yang membuat kanker tiroid ini tidak bisa dicegah secara khusus. "Karena pengaruhnya besar sekali lagi faktor genetik, maka pencegahan khusus yang bisa dilakukan itu sebenarnya tidak ada," jelasnya.
Kendati demikian, dr Wismandari mengaku bahwa ia pernah membaca sebuah artikel kesehatan di mana di dalamnya terdapat kisah seseorang yang melakukan uji coba atau tes gen untuk melihat apakah di dalam gennya termutasi kanker tiroid yang diturunkan dari orang tuanya. Jika memang termutasi dan hasilnya positif, maka yang dilakukan untuk mencegah kanker tersebut berkembang lebih lanjut adalah dengan langsung mengangkat kelenjar tiroidnya.
"Hal seperti itu memang bisa disebut sebagai salah satu pencegahan. Namun sejauh ini, hal itu masih sangat kontroversi ya karena dianggap tindakannya masih cukup ekstrem," ungkap dr Wismandari.
Mengingat bahwa pencegahan tersebut juga 'memaksakan' terjadinya pengangkatan kelenjar tiroid, lantas apakah itu tandanya tetap diperlukan terapi sulih hormon tiroid yang memang dilakukan kepada pasien kanker tiroid yang telah disembuhkan kankernya?
"Ya, memang. Jadi intinya tetap saja memerlukan terapi sulih hormon tiroid seperti yang dilakukan pasien kanker tiroid yang sudah sembuh," tutup dr Wismandari.
(vit/vit)










































