5 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Kanker Payudara

5 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Kanker Payudara

- detikHealth
Selasa, 22 Apr 2014 11:06 WIB
5 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Kanker Payudara
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Saat seseorang didiagnosa terkena kanker payudara, mungkin dunianya terasa ambruk. Namun seberat dan sesakit apapun penyakit yang diderita, sebaiknya jangan sampai membuat menyerah. Sebab pasti akan selalu ada jalan keluar untuk membuat hidup menjadi lebih berkualitas meskipun tengah berjuang melawan kanker payudara.

Jangan jadikan kanker payudara sebagai penyakit yang tabu untuk dibicarakan. Sebab semakin sering berdiskusi dengan orang-orang, khususnya yang pernah punya pengalaman dengan kanker payudara, akan menimbulkan motivasi untuk sembuh. Selain itu, juga bisa meminimalkan pasien kanker payudara termakan mitos-mitos yang beredar.

Nah, berikut ini ada hal-hal penting seputar kanker payudara yang perlu Anda ketahui, seperti dirangkum detikHealth pada Selasa (22/4/2014):


Ilustrasi (Foto: thinkstock)

1. Jika Tak Terlambat Berobat, Peluang Sembuh 95%

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Sistem imunitas seseorang sangat berpengaruh dalam mencegah dan menghadapi kanker. Karena itulah pola hidup sehat penting untuk dijalani guna mencegah kanker, misalnya dengan menghindari alkohol, tidak merokok, mempertahankan berat badan sehat, menjaga pola makan yang sehat, dan berolahraga 4-5 kali dalam seminggu minimal selama 30 menit.

Selain faktor dari diri sendiri, keberhasilan upaya pengendalian kanker juga membutuhkan kerja sama dari semua pihak yang terkait. Baik itu dari pasien, keluarga, ataupun petugas pelayanan kesehatan. Deteksi dini dan konsultasi ke dokter sebaiknya tidak ditunda-tunda, apalagi jika memiliki faktor risiko kanker payudara. Dengan demikian bisa dilakukan tindakan medis yang tepat. Karena sebenarnya peluang pasien kanker payudara stadium dini untuk sembuh mencapai 95 persen.

1. Jika Tak Terlambat Berobat, Peluang Sembuh 95%

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Sistem imunitas seseorang sangat berpengaruh dalam mencegah dan menghadapi kanker. Karena itulah pola hidup sehat penting untuk dijalani guna mencegah kanker, misalnya dengan menghindari alkohol, tidak merokok, mempertahankan berat badan sehat, menjaga pola makan yang sehat, dan berolahraga 4-5 kali dalam seminggu minimal selama 30 menit.

Selain faktor dari diri sendiri, keberhasilan upaya pengendalian kanker juga membutuhkan kerja sama dari semua pihak yang terkait. Baik itu dari pasien, keluarga, ataupun petugas pelayanan kesehatan. Deteksi dini dan konsultasi ke dokter sebaiknya tidak ditunda-tunda, apalagi jika memiliki faktor risiko kanker payudara. Dengan demikian bisa dilakukan tindakan medis yang tepat. Karena sebenarnya peluang pasien kanker payudara stadium dini untuk sembuh mencapai 95 persen.

2. Tak Cuma Orang Tua, yang Muda Juga Bisa Kena

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Risiko memiliki kanker payudara pada peremouan yang berusia di atas usia 45 lebih tinggi karena sudah hampir mencapai usia menopause. Sedangkan kanker adalah penyakit yang semakin berbahaya seiring bertambahnya usia. Namun tidak dipungkiri bahwa kanker payudara juga bisa menyerang wanita muda.

"Risiko orang terkena kanker payudara kan banyak. Mulai dari faktor genetik, hormon, obesitas juga faktor reproduksi. Oleh karena itu penting untuk melakukan skrining ketika usia sudah 45. Namun jika mempunyai faktor risiko lain seperti tadi juga sudah harus melakukan skrining," papar Dr dr Samuel J. Harjono Sp.B(K) Onk, pakar kanker payudara dari RS Kanker Dharmais yang juga praktik di Siloam Hospital.

2. Tak Cuma Orang Tua, yang Muda Juga Bisa Kena

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Risiko memiliki kanker payudara pada peremouan yang berusia di atas usia 45 lebih tinggi karena sudah hampir mencapai usia menopause. Sedangkan kanker adalah penyakit yang semakin berbahaya seiring bertambahnya usia. Namun tidak dipungkiri bahwa kanker payudara juga bisa menyerang wanita muda.

"Risiko orang terkena kanker payudara kan banyak. Mulai dari faktor genetik, hormon, obesitas juga faktor reproduksi. Oleh karena itu penting untuk melakukan skrining ketika usia sudah 45. Namun jika mempunyai faktor risiko lain seperti tadi juga sudah harus melakukan skrining," papar Dr dr Samuel J. Harjono Sp.B(K) Onk, pakar kanker payudara dari RS Kanker Dharmais yang juga praktik di Siloam Hospital.

3. Stres Itu 'Makanan' Kanker

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Risiko kanker mengintai orang-orang yang tidak menjaga pola hidup sehat, termasuk mereka-mereka yang sering stres dan kurang istirahat. "Pola hidup sehat harus dimulai dengan positif, tidak stres," kata Prof Soehartati Gondhowiardjo, PhD, Kepala Departemen Radioterapi RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Tentunya tidak cukup hanya dengan berpikir positif dan menghindari stres. Apalagi dengan tidur seharian untuk memenuhi kecukupan istirahat. Masih ada hal lain yang harus dipenuhi untuk menyeimbangkan pola hidup agar jauh dari risiko kanker.

Salah satunya, menurut Prof Tati adalah menghindari obesitas melalui olahraga teratur. Menyeimbangkan asupan makanan dengan pembakaran kalori melalui aktivitas fisik penting dilakukan karena obesitas juga termasuk faktor risiko kanker. Menjaga pola makan juga penting untuk dilakukan, yakni memperbanyak asupan sayur dan buah. Rokok dan alkohol termasuk pantangan bagi yang ingin jauh dari kanker. Tak kalah pentingya, Prof Tati berpesan untuk menjauhi infeksi dengan selalu menjaga kebersihan.

3. Stres Itu 'Makanan' Kanker

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Risiko kanker mengintai orang-orang yang tidak menjaga pola hidup sehat, termasuk mereka-mereka yang sering stres dan kurang istirahat. "Pola hidup sehat harus dimulai dengan positif, tidak stres," kata Prof Soehartati Gondhowiardjo, PhD, Kepala Departemen Radioterapi RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Tentunya tidak cukup hanya dengan berpikir positif dan menghindari stres. Apalagi dengan tidur seharian untuk memenuhi kecukupan istirahat. Masih ada hal lain yang harus dipenuhi untuk menyeimbangkan pola hidup agar jauh dari risiko kanker.

Salah satunya, menurut Prof Tati adalah menghindari obesitas melalui olahraga teratur. Menyeimbangkan asupan makanan dengan pembakaran kalori melalui aktivitas fisik penting dilakukan karena obesitas juga termasuk faktor risiko kanker. Menjaga pola makan juga penting untuk dilakukan, yakni memperbanyak asupan sayur dan buah. Rokok dan alkohol termasuk pantangan bagi yang ingin jauh dari kanker. Tak kalah pentingya, Prof Tati berpesan untuk menjauhi infeksi dengan selalu menjaga kebersihan.

4. Kekurangan Oksigen Perparah Kanker Payudara

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Penelitian yang dilakukan oleh John Hopkins University di Baltimore menyebutkan bahwa kadar oksigen yang rendah dalam tubuh akan memicu produksi protein yang membuat tumor berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adakah pengaruh tubuh dalam proses berkembangnya tumor berbahaya tersebut.

Kanker payudara, paru-paru, tulang, dan liver, termasuk jenis penyakit yang sulit ditangani. Sebab tumor tersebut cenderung untuk berpindah dari tempat aslinya. Proses tersebut dinamakan sebagai metastatis, proses biologis di mana sel yang terserang kanker menyebar ke sistem tubuh yang lain.

Gregg Semenza, profesor dalam bidang obat-obatan yang terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa sel kanker payudara berkembang akibat tubuh mengantisipasi adanya hypoxia atau kekurangan oksigen. Ketika sedang kekurangan oksigen, tubuh akan melepaskan RhoA dan ROCK1 yang dapat membuat sel-sel sehat untuk beradapatasi, namun juga menyebabkan berkembangnya kanker payudara.

Gilkes menyatakan bahwa penelitian telah sukses membuktikan bahwa penyebaran kanker payudara dapat dicegah dengan membuat keadaan kekurangan oksigen sejarang mungkin. Harapannya adalah akan ada penelitian lanjutan untuk memahami efek obat pada perkembangan protein RhoA dan ROCK1.

4. Kekurangan Oksigen Perparah Kanker Payudara

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Penelitian yang dilakukan oleh John Hopkins University di Baltimore menyebutkan bahwa kadar oksigen yang rendah dalam tubuh akan memicu produksi protein yang membuat tumor berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adakah pengaruh tubuh dalam proses berkembangnya tumor berbahaya tersebut.

Kanker payudara, paru-paru, tulang, dan liver, termasuk jenis penyakit yang sulit ditangani. Sebab tumor tersebut cenderung untuk berpindah dari tempat aslinya. Proses tersebut dinamakan sebagai metastatis, proses biologis di mana sel yang terserang kanker menyebar ke sistem tubuh yang lain.

Gregg Semenza, profesor dalam bidang obat-obatan yang terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa sel kanker payudara berkembang akibat tubuh mengantisipasi adanya hypoxia atau kekurangan oksigen. Ketika sedang kekurangan oksigen, tubuh akan melepaskan RhoA dan ROCK1 yang dapat membuat sel-sel sehat untuk beradapatasi, namun juga menyebabkan berkembangnya kanker payudara.

Gilkes menyatakan bahwa penelitian telah sukses membuktikan bahwa penyebaran kanker payudara dapat dicegah dengan membuat keadaan kekurangan oksigen sejarang mungkin. Harapannya adalah akan ada penelitian lanjutan untuk memahami efek obat pada perkembangan protein RhoA dan ROCK1.

5. Protein Ini Penyebab Kanker Payudara Agresif

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
HER2 (dibaca: her two) atau Human Epidermal Growthf Factor Receptor 2 adalah protein yang diproduksi gen yang berpotensi menyebabkan kanker. Protein ini berperan sebagai antena yang aktif memberi sinyal agar sel kanker bisa berkembang biak dengan cepat dan mematikan.

"HER2 ini berhubungan dengan perjalanan penyakit yang makin cepat menyebar ke sekelilingnya termasuk organ vital lain seperti paru, otak, dan tulang," kata dr Martha Roida Manurung dari Instalasi Deteksi Dini dan Onkologi Sosial RS Kanker Dharmais.

Karena itu penting bagi pasien yang telah terdiagnosis kanker payudara untuk memeriksa status HER2-nya karena pasien dengan HER2 positif perjalanan penyakitnya lebih buruk daripada pasien dengan HER2 negatif. Selain itu, HER2 juga menyebabkan keadaan pasien cepat memburuk dan waktu kambuh yang lebih cepat di semua tahap perkembangan kanker payudara.

Pasien dikatakan memiliki HER2 positif jika dalam pemeriksaan patologi tumor ditemukan reseptor HER2 dalam jumlah melebihi batas normal pada sel tumor. Diperkirakan 20 sampai 30 persen pasien kanker payudara positif memiliki HER2 positif.

5. Protein Ini Penyebab Kanker Payudara Agresif

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
HER2 (dibaca: her two) atau Human Epidermal Growthf Factor Receptor 2 adalah protein yang diproduksi gen yang berpotensi menyebabkan kanker. Protein ini berperan sebagai antena yang aktif memberi sinyal agar sel kanker bisa berkembang biak dengan cepat dan mematikan.

"HER2 ini berhubungan dengan perjalanan penyakit yang makin cepat menyebar ke sekelilingnya termasuk organ vital lain seperti paru, otak, dan tulang," kata dr Martha Roida Manurung dari Instalasi Deteksi Dini dan Onkologi Sosial RS Kanker Dharmais.

Karena itu penting bagi pasien yang telah terdiagnosis kanker payudara untuk memeriksa status HER2-nya karena pasien dengan HER2 positif perjalanan penyakitnya lebih buruk daripada pasien dengan HER2 negatif. Selain itu, HER2 juga menyebabkan keadaan pasien cepat memburuk dan waktu kambuh yang lebih cepat di semua tahap perkembangan kanker payudara.

Pasien dikatakan memiliki HER2 positif jika dalam pemeriksaan patologi tumor ditemukan reseptor HER2 dalam jumlah melebihi batas normal pada sel tumor. Diperkirakan 20 sampai 30 persen pasien kanker payudara positif memiliki HER2 positif.

Halaman 2 dari 12
Sistem imunitas seseorang sangat berpengaruh dalam mencegah dan menghadapi kanker. Karena itulah pola hidup sehat penting untuk dijalani guna mencegah kanker, misalnya dengan menghindari alkohol, tidak merokok, mempertahankan berat badan sehat, menjaga pola makan yang sehat, dan berolahraga 4-5 kali dalam seminggu minimal selama 30 menit.

Selain faktor dari diri sendiri, keberhasilan upaya pengendalian kanker juga membutuhkan kerja sama dari semua pihak yang terkait. Baik itu dari pasien, keluarga, ataupun petugas pelayanan kesehatan. Deteksi dini dan konsultasi ke dokter sebaiknya tidak ditunda-tunda, apalagi jika memiliki faktor risiko kanker payudara. Dengan demikian bisa dilakukan tindakan medis yang tepat. Karena sebenarnya peluang pasien kanker payudara stadium dini untuk sembuh mencapai 95 persen.

Sistem imunitas seseorang sangat berpengaruh dalam mencegah dan menghadapi kanker. Karena itulah pola hidup sehat penting untuk dijalani guna mencegah kanker, misalnya dengan menghindari alkohol, tidak merokok, mempertahankan berat badan sehat, menjaga pola makan yang sehat, dan berolahraga 4-5 kali dalam seminggu minimal selama 30 menit.

Selain faktor dari diri sendiri, keberhasilan upaya pengendalian kanker juga membutuhkan kerja sama dari semua pihak yang terkait. Baik itu dari pasien, keluarga, ataupun petugas pelayanan kesehatan. Deteksi dini dan konsultasi ke dokter sebaiknya tidak ditunda-tunda, apalagi jika memiliki faktor risiko kanker payudara. Dengan demikian bisa dilakukan tindakan medis yang tepat. Karena sebenarnya peluang pasien kanker payudara stadium dini untuk sembuh mencapai 95 persen.

Risiko memiliki kanker payudara pada peremouan yang berusia di atas usia 45 lebih tinggi karena sudah hampir mencapai usia menopause. Sedangkan kanker adalah penyakit yang semakin berbahaya seiring bertambahnya usia. Namun tidak dipungkiri bahwa kanker payudara juga bisa menyerang wanita muda.

"Risiko orang terkena kanker payudara kan banyak. Mulai dari faktor genetik, hormon, obesitas juga faktor reproduksi. Oleh karena itu penting untuk melakukan skrining ketika usia sudah 45. Namun jika mempunyai faktor risiko lain seperti tadi juga sudah harus melakukan skrining," papar Dr dr Samuel J. Harjono Sp.B(K) Onk, pakar kanker payudara dari RS Kanker Dharmais yang juga praktik di Siloam Hospital.

Risiko memiliki kanker payudara pada peremouan yang berusia di atas usia 45 lebih tinggi karena sudah hampir mencapai usia menopause. Sedangkan kanker adalah penyakit yang semakin berbahaya seiring bertambahnya usia. Namun tidak dipungkiri bahwa kanker payudara juga bisa menyerang wanita muda.

"Risiko orang terkena kanker payudara kan banyak. Mulai dari faktor genetik, hormon, obesitas juga faktor reproduksi. Oleh karena itu penting untuk melakukan skrining ketika usia sudah 45. Namun jika mempunyai faktor risiko lain seperti tadi juga sudah harus melakukan skrining," papar Dr dr Samuel J. Harjono Sp.B(K) Onk, pakar kanker payudara dari RS Kanker Dharmais yang juga praktik di Siloam Hospital.

Risiko kanker mengintai orang-orang yang tidak menjaga pola hidup sehat, termasuk mereka-mereka yang sering stres dan kurang istirahat. "Pola hidup sehat harus dimulai dengan positif, tidak stres," kata Prof Soehartati Gondhowiardjo, PhD, Kepala Departemen Radioterapi RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Tentunya tidak cukup hanya dengan berpikir positif dan menghindari stres. Apalagi dengan tidur seharian untuk memenuhi kecukupan istirahat. Masih ada hal lain yang harus dipenuhi untuk menyeimbangkan pola hidup agar jauh dari risiko kanker.

Salah satunya, menurut Prof Tati adalah menghindari obesitas melalui olahraga teratur. Menyeimbangkan asupan makanan dengan pembakaran kalori melalui aktivitas fisik penting dilakukan karena obesitas juga termasuk faktor risiko kanker. Menjaga pola makan juga penting untuk dilakukan, yakni memperbanyak asupan sayur dan buah. Rokok dan alkohol termasuk pantangan bagi yang ingin jauh dari kanker. Tak kalah pentingya, Prof Tati berpesan untuk menjauhi infeksi dengan selalu menjaga kebersihan.

Risiko kanker mengintai orang-orang yang tidak menjaga pola hidup sehat, termasuk mereka-mereka yang sering stres dan kurang istirahat. "Pola hidup sehat harus dimulai dengan positif, tidak stres," kata Prof Soehartati Gondhowiardjo, PhD, Kepala Departemen Radioterapi RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Tentunya tidak cukup hanya dengan berpikir positif dan menghindari stres. Apalagi dengan tidur seharian untuk memenuhi kecukupan istirahat. Masih ada hal lain yang harus dipenuhi untuk menyeimbangkan pola hidup agar jauh dari risiko kanker.

Salah satunya, menurut Prof Tati adalah menghindari obesitas melalui olahraga teratur. Menyeimbangkan asupan makanan dengan pembakaran kalori melalui aktivitas fisik penting dilakukan karena obesitas juga termasuk faktor risiko kanker. Menjaga pola makan juga penting untuk dilakukan, yakni memperbanyak asupan sayur dan buah. Rokok dan alkohol termasuk pantangan bagi yang ingin jauh dari kanker. Tak kalah pentingya, Prof Tati berpesan untuk menjauhi infeksi dengan selalu menjaga kebersihan.

Penelitian yang dilakukan oleh John Hopkins University di Baltimore menyebutkan bahwa kadar oksigen yang rendah dalam tubuh akan memicu produksi protein yang membuat tumor berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adakah pengaruh tubuh dalam proses berkembangnya tumor berbahaya tersebut.

Kanker payudara, paru-paru, tulang, dan liver, termasuk jenis penyakit yang sulit ditangani. Sebab tumor tersebut cenderung untuk berpindah dari tempat aslinya. Proses tersebut dinamakan sebagai metastatis, proses biologis di mana sel yang terserang kanker menyebar ke sistem tubuh yang lain.

Gregg Semenza, profesor dalam bidang obat-obatan yang terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa sel kanker payudara berkembang akibat tubuh mengantisipasi adanya hypoxia atau kekurangan oksigen. Ketika sedang kekurangan oksigen, tubuh akan melepaskan RhoA dan ROCK1 yang dapat membuat sel-sel sehat untuk beradapatasi, namun juga menyebabkan berkembangnya kanker payudara.

Gilkes menyatakan bahwa penelitian telah sukses membuktikan bahwa penyebaran kanker payudara dapat dicegah dengan membuat keadaan kekurangan oksigen sejarang mungkin. Harapannya adalah akan ada penelitian lanjutan untuk memahami efek obat pada perkembangan protein RhoA dan ROCK1.

Penelitian yang dilakukan oleh John Hopkins University di Baltimore menyebutkan bahwa kadar oksigen yang rendah dalam tubuh akan memicu produksi protein yang membuat tumor berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adakah pengaruh tubuh dalam proses berkembangnya tumor berbahaya tersebut.

Kanker payudara, paru-paru, tulang, dan liver, termasuk jenis penyakit yang sulit ditangani. Sebab tumor tersebut cenderung untuk berpindah dari tempat aslinya. Proses tersebut dinamakan sebagai metastatis, proses biologis di mana sel yang terserang kanker menyebar ke sistem tubuh yang lain.

Gregg Semenza, profesor dalam bidang obat-obatan yang terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa sel kanker payudara berkembang akibat tubuh mengantisipasi adanya hypoxia atau kekurangan oksigen. Ketika sedang kekurangan oksigen, tubuh akan melepaskan RhoA dan ROCK1 yang dapat membuat sel-sel sehat untuk beradapatasi, namun juga menyebabkan berkembangnya kanker payudara.

Gilkes menyatakan bahwa penelitian telah sukses membuktikan bahwa penyebaran kanker payudara dapat dicegah dengan membuat keadaan kekurangan oksigen sejarang mungkin. Harapannya adalah akan ada penelitian lanjutan untuk memahami efek obat pada perkembangan protein RhoA dan ROCK1.

HER2 (dibaca: her two) atau Human Epidermal Growthf Factor Receptor 2 adalah protein yang diproduksi gen yang berpotensi menyebabkan kanker. Protein ini berperan sebagai antena yang aktif memberi sinyal agar sel kanker bisa berkembang biak dengan cepat dan mematikan.

"HER2 ini berhubungan dengan perjalanan penyakit yang makin cepat menyebar ke sekelilingnya termasuk organ vital lain seperti paru, otak, dan tulang," kata dr Martha Roida Manurung dari Instalasi Deteksi Dini dan Onkologi Sosial RS Kanker Dharmais.

Karena itu penting bagi pasien yang telah terdiagnosis kanker payudara untuk memeriksa status HER2-nya karena pasien dengan HER2 positif perjalanan penyakitnya lebih buruk daripada pasien dengan HER2 negatif. Selain itu, HER2 juga menyebabkan keadaan pasien cepat memburuk dan waktu kambuh yang lebih cepat di semua tahap perkembangan kanker payudara.

Pasien dikatakan memiliki HER2 positif jika dalam pemeriksaan patologi tumor ditemukan reseptor HER2 dalam jumlah melebihi batas normal pada sel tumor. Diperkirakan 20 sampai 30 persen pasien kanker payudara positif memiliki HER2 positif.

HER2 (dibaca: her two) atau Human Epidermal Growthf Factor Receptor 2 adalah protein yang diproduksi gen yang berpotensi menyebabkan kanker. Protein ini berperan sebagai antena yang aktif memberi sinyal agar sel kanker bisa berkembang biak dengan cepat dan mematikan.

"HER2 ini berhubungan dengan perjalanan penyakit yang makin cepat menyebar ke sekelilingnya termasuk organ vital lain seperti paru, otak, dan tulang," kata dr Martha Roida Manurung dari Instalasi Deteksi Dini dan Onkologi Sosial RS Kanker Dharmais.

Karena itu penting bagi pasien yang telah terdiagnosis kanker payudara untuk memeriksa status HER2-nya karena pasien dengan HER2 positif perjalanan penyakitnya lebih buruk daripada pasien dengan HER2 negatif. Selain itu, HER2 juga menyebabkan keadaan pasien cepat memburuk dan waktu kambuh yang lebih cepat di semua tahap perkembangan kanker payudara.

Pasien dikatakan memiliki HER2 positif jika dalam pemeriksaan patologi tumor ditemukan reseptor HER2 dalam jumlah melebihi batas normal pada sel tumor. Diperkirakan 20 sampai 30 persen pasien kanker payudara positif memiliki HER2 positif.

(vta/mer)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads