"Untuk Papua, saya agak pesimistis. Mutasi kumannya banyak, ancaman resistensi tinggi sedangkan obatnya terbatas," kata Puji B.S. Asih, BSc, peneliti parasitologi molekuler dari Lembaga Eijkman, ditemui di kantornya, Jl Diponegoro, Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (23/4/2014).
Resistensi atau kekebalan kuman terhadap obat malaria memang menjadi ancaman bagi setiap upaya pemberantasan penyakit yang ditularkan nyamun Anopheles ini. Parasit plasmodium yang menyebabkan malaria mudah sekali bermutasi dan membentuk kekebalan terhadap obat tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di lapangan kami belum tahu. Tapi dari percobaan di laboratorium, parasit malaria mudah sekali membentuk resistensi," tambah dr Rintis Noviyanti, juga dari Lembaga Eijkman.
Salah satu penyebab kuman bermutasi dan membentuk resistensi adalah penggunaan obat yang tidak sesuai ketentuan. Beberapa pasien menghentikan pengobatan setelah gejalanya berkurang, meski saat itu kuman belum benar-benar mati. Kuman yang masih bertahan itulah yang kemudian akan menjadi kebal.
Secara umum, kementerian kesehatan mengklaim jumlah kasus malaria di Indonesia turun dari 417.819 kasus di 2012 menjadi 343.527 kasus di 2013. Jumlah wilayah dengan endemisitas tinggi juga berkurang, dari 101 kabupaten/kota pada 2010 menjadi 57 kabupaten/kota pada 2013.
(up/vit)











































