Hal ini diungkapkan oleh dr Nafsiah Mboi, SpA, MPH, Menteri Kesehatan RI. Nafsiah menjelaskan bahwa besarnya angka ibu rumah tangga yang terkena HIV/AIDS merupakan bentuk dari penularan HIV/AIDS yang diberikan oleh pasangannya.
"Prevalensi HIV/AIDS pada lelaki berisiko tinggi (LBT), di mana maksudnya mereka para lelaki yang suka memakai jasa penjaja seks, itu meningkat. Akibatnya lelaki yang terkena HIV/AIDS itu bisa menularkan kepada istrinya," tutur Nafsiah saat ditemui pada Press Conference terkait HIV/AIDS pada Wanita yang diadakan di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (24/4/2014).
Lebih lanjut, Nafsiah mengungkapkan bahwa para pria yang sudah terkena HIV/AIDS akibat suka 'membeli' seks pada berbagai penjaja seks, mereka malas menggunakan kondom ketika mereka melakukan hubungan suami istri bersama pasangannya setelah menikah. Padahal, dari situlah awal penularan HIV/AIDS dapat terjadi.
Berdasarkan data estimasi yang dikeluarkan Kemenkes RI pada tahun 2012, terdapat sejumlah 4,9 juta wanita yang menikah dengan pria yang berisiko tinggi. Maka dari itu, Nafsiah sangat meminta kepada para pria untuk menggunakan kondom demi mencegah terjadinya penularan HIV/AIDS ke ibu dan anak.
"Jadi tolong, jangan malas menggunakan kondom. Buat para pria yang suka melakukan hubungan seks, tolonglah bertanggung jawab untuk tidak menularkan HIV/AIDS kepada pasangan kalian. Karena jika wanita terinfeksi HIV, maka akan berisiko menularkan HIV pada bayi," terang Nafsiah.
Meski saat ini tingkat kasus yang sudah positif HIV menurun, namun Nafsiah menekankan bahwa apabila perilaku malas menggunakan kondom belum juga berubah, maka hal tersebut bisa saja akan meningkatkan kembali jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia.











































