Apa yang membedakannya? Peneliti mengklaim kulit buatan mereka ini dilengkapi dengan lapisan terluar dari kulit manusia, yaitu epidermis. Epidermis inilah yang mencegah hilangnya kelembaban kulit serta menyetop masuknya mikroba-mikroba jahat masuk ke tubuh lewat kulit.
Untuk membuat kulit ini, peneliti menggunakan sel kulit yang telah diprogram ulang sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan cadangan sel kulit yang sudah dilengkapi dengan epidermis, dalam jumlah yang tak terbatas.
Selain itu, peneliti menumbuhkan sel kulit ini dalam lingkungan dengan kelembaban rendah sehingga si kulit buatan 'merasakan cobaan' persis seperti yang dialami kulit asli.
"Ini adalah model kulit baru yang cocok digunakan untuk mengetes obat dan kosmetik baru, termasuk menggantikan hewan yang selama ini dijadikan bahan percobaan. Lagipula ini murah serta mudah dikembangkan," tandas ketua tim peneliti, Dr Dusko Ilic seperti dikutip dari BBC, Jumat (25/4/2014).
Bahkan Dr Ilic yakin model kulit buatannya dapat dipakai untuk mengetes obat-obatan baru untuk penyakit kulit, seperti kulit kering dan bersisik ataupun eksim.
Hal ini diamini koleganya, Dr Theodora Mauro. "Kami dapat menggunakan model ini untuk mempelajari bagaimana jaringan pelindung kulit dapat tumbuh secara normal, bagaimana kondisi mereka ketika diserang penyakit yang berbeda-beda, dan bagaimana kami dapat merangsang agar jaringan ini memperbaiki dan recovery atau memulihkan dirinya sendiri," jelasnya.











































