Wahyu (17) salah seorang peserta mengatakan bahwa meski penyalahgunaan narkoba masih sering ditemuinya di lingkungan sekitar rumah, namun ia tidak ikut-ikutan karena tahu bahaya yang bisa ditimbulkan oleh zat adiktif tersebut.
"Di sekitar sini juga masih ada yang pakai gele (ganja). Cuma nggak ikutan karena sudah tahu bahayanya," tuturnya ketika ditemui detikHealth usai seminar Akal Sehat, Hidup Sehat di Ruang Serbaguna RW 03, Kelurahan Palmerah, Jakarta Barat, dan ditulis pada Minggu (27/4/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Didiemin aja dia. Biar dia pakai sendirian. Nggak berani negur atau ngelarang. Takut kalau dilarang dia nanti marah-marah atau ngamuk," katanya lagi.
Rizky melanjutkan bahwa sebenarnya teman-temannya sesama remaja yang menggunakan narkoba tersebut sudah tahu dan sadar bahwa narkoba dapat merusak tubuh dan menjerumuskan mereka kepada perbuatan kriminal. Namun mereka memilih untuk mengabaikan hal tersebut.
"Alasannya pakainya bermacam-macam. Ada yang memang cuma ikut-ikutan teman lain. Ada yang supaya seru-seruan aja pas nongkrong," lanjutnya lagi.
Konselor senior penyalahgunaan narkoba dari RS Bhayangkara Sespimma POLRI, Hazni Hidayat, memaparkan bahwa langkah paling tepat ketika remaja atau anak-anak menemukan orang yang menyalahgunakan atau bertransaksi narkoba adalah mendiamkan dan menjauhinya. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Kalau teman-teman, adik-adik disini menemukan hal-hal seperti itu (pemakaian atau transaksi narkoba) lebih baik jauhi dan didiamkan. Lalu lapor ke pihak yang berwajib. Polisi atau kalau tidak orang dewasa lainnya seperti hansip, satpam, atau pegawai kelurahan misalnya. Jangan sok pahlawan, takutnya nanti malah jadi sasaran amukan dia (pemakai)," pungkasnya.
(vit/vit)











































