"Saya tuh tidak mau kalau ada genangan air. Makanya saya tidak mau pakai bak mandi, lebih suka pakai keran dan shower. Bawah dispenser juga selalu perhatikan. Kadang-kadang kita suka lihat kan ada penyaringnya. Nah itu harus dibersihkan," papar Ersa kepada detikHealth saat ditemui di konferensi pers Jambore Jumantik Cilik 2014 yang diadakan di Electic Resto Cilandak Town Square, Jl. TB Simatupang Kav 17, Jakarta, dan ditulis pada Senin (28/4/2014).
Ersa pun menyarankan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih peduli akan pencegahan DBD ini sehingga bisa melindungi anak dari DBD. "Saat ini iklim kan tidak bisa ditebak. Kita bingung kan masih hujan saja padahal sudah bulan seperti sekarang ini. Makanya itu yang hanya bisa lakukan adalah usaha preventif untuk melindungi anak-anak dari DBD," ucapnya.
Ersa mengaku dirinya dan keluarga belum pernah terkena DBD. Meksi belum tahu bagaimana rasanya, tapi Ersa sama sekali tidak mau punya punya pengalaman DBD. "Jangan sampai deh. DBD itu merupakan suatu hal yang menakutkan ya buat kita," sambungnya.
Menurut Ersa, sebagai seorang ibu, ia harus selalu aware terhadap gejala-gejala suatu penyakit. Hal itu penting untuk diperhatikan agar ia bisa menjaga dan melindungi anak-anak serta keluarganya dari penyakit yang lebih lanjut. "Kalau saya misalnya anak panas 3 hari, untuk amannya saya pasti periksa ke dokter. Jangan malah 'menjadi' dokter sendiri. Serahkan semuanya pada yang ahli," imbuhnya.
Untuk diketahui Indonesia adalah negara kedua dengan kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi di dunia, setelah Brasil, di mana usia 7-12 tahun adalah kategori usia yang paling sering terjadi.
(vit/vit)











































