Organ Pendengaran Utama Bukan Telinga, Tetapi Otak

Organ Pendengaran Utama Bukan Telinga, Tetapi Otak

- detikHealth
Jumat, 02 Mei 2014 08:00 WIB
Organ Pendengaran Utama Bukan Telinga, Tetapi Otak
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Yogyakarta - Orang kerap mengira bahwa telinga merupakan organ pendengaran utama. Padahal, organ pendengaran utama manusia ternyata bukan telinga lho, melainkan otak. Bagaimana bisa?

Otak merupakan organ pendengaran utama karena otaklah yang berfungsi menerjemahkan suara yang didengar sehingga seseorang dapat memberi respons. Telinga hanya perantara atau pintu yang dilalui suara agar dapat mencapai saraf pendengaran pada otak. Demikian menurut penuturan Eka K. Hikmat, S. Psi, Manajer Program Yayasan Rumah Siput Indonesia, dalam workshop bertajuk 'Kegiatan AVT yang Aplikatif dan Menyenangkan' di Hotel Amaris Yogyakarta.

"Jadi ketika ditanya, organ pendengaran utama apa? Katanya telinga. Padahal, yang betul adalah otak. Telinga sebetulnya hanya jalan agar suara-suara di sekitar bisa masuk ke otak, karena otak yang membuat suara itu bermakna, otak yang bisa mengartikan," tutur terapis auditory-verbal tersebut, seperti ditulis pada Jumat (2/5/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seiring dengan pertambahan usia, koneksi saraf-saraf pendengaran seseorang pun akan makin banyak dan rumit, itu menandakan kemampuan mendengar dan berbicara atau berbahasanya juga semakin berkembang. Namun lain halnya dengan anak yang mengalami gangguan pendengaran sejak lahir dan tidak mendapat alat bantu pendengaran. Kondisi saraf-saraf pendengaran mereka bisa jadi masih sama seperti saat lahir, sederhana dan polos.

"Anak-anak yang memiliki gangguan pendengaran, terutama yang memilikinya sejak lahir, meskipun usianya sudah dua tahun atau lebih, bisa jadi kondisi saraf-saraf pendengarannya masih seperti ketika bayi. Karena tidak ada suara yang masuk, ‘pintu’nya masih tertutup," terangnya.

Itulah mengapa orang yang mengalami gangguan pendengaran masih dapat mendengar dan berbicara dengan baik jika jalan suara dibuka dengan bantuan alat, seperti alat bantu dengar (ABD) atau implan koklea. Dengan dibukanya jalan suara menuju otak tersebut, saraf-saraf pendengaran pada otak dapat distimulasi sehingga dapat berkembang dan bekerja mendekati saraf-saraf pendengaran orang yang tidak memiliki gangguan pendengaran.

Sayangnya menurut berbagai penelitian, saraf-saraf pendengaran tersebut memiliki 'masa kadaluwarsa'. Pada usia nol hingga 3,5 tahun, saraf pendengaran tersebut berada dalam kondisi plastis/fleksibel sehingga kemampuan berbahasa sangat mudah untuk dilatih. Inilah mengapa bayi pada usia tersebut harus mendapat banyak paparan bahasa verbal dari orang di sekitarnya. Setelah itu plastisitas/fleksibilitas saraf-saraf pendengaran akan semakin menurun, dan pada usia tujuh tahun ke atas fleksibilitasnya telah menurun dengan sangat drastis.

"Saraf-saraf tadi tidak selamanya plastis, makin lama makin kaku. Ketika masih di bawah 3,5 tahun, itu plastis sekali, fleksibel sekali. Begitu lewat dari itu akan mulai kaku, apalagi setelah di atas tujuh tahun. Jadi anak lebih sulit juga untuk diajari mendengar dan berbicara meskipun sudah pakai alat. Bukan tidak mungkin, tetapi lebih sulit," terangnya dalam workshop yang digelar Rumah Ramah Rubella tersebut.

Pada anak dengan gangguan pendengaran, bukan tidak mungkin mereka dapat mendengar dan berbicara lancar laiknya anak tanpa gangguan pendengaran. Yang perlu dilakukan hanyalah memasangkan alat bantu dengar atau implan rumah siput guna membuka jalan suara ke otak.

Selain itu anak juga harus mendapatkan terapi mendengar dan berbicara (Auditory-Verbal Therapy) untuk mengejar keterlambatan perkembangan bahasa. Dua hal tersebut sebaiknya dilakukan sedini mungkin agar perkembangan bahasa anak tidak terlalu tertinggal dari anak lain.

(vit/vit)

Berita Terkait