Nyamuk Aktif di Siang Hari Bikin Anak Rentan Tertular DBD di Sekolah

Nyamuk Aktif di Siang Hari Bikin Anak Rentan Tertular DBD di Sekolah

- detikHealth
Jumat, 02 Mei 2014 15:30 WIB
Nyamuk Aktif di Siang Hari Bikin Anak Rentan Tertular DBD di Sekolah
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Anak sekolah merupakan kelompok paling rentan tertular demam berdarah. Bukan semata-mata karena sekolah kurang menjaga kebersihan, melainkan berhubungan pula dengan sifat nyamuk Aedes aegypti yang lebih aktif di siang hari.

"Nyamuk Aedes aegypti itu kan aktifnya jam 8-10 pagi ya, makanya sangat mungkin anak kena DBD di sekolah," kata Ngatini, MPd, Kepala SDN 01 Duren Tiga Pagi, seusai acara pemberantasan sarang nyamuk di Jl Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (2/4/104).

Ngatini mengakui, beberapa kali tercatat siswanya masuk rumah sakit karena demam berdarah. Sulit dipastikan di mana mereka tertular, namun ia tidak menampik kemungkinan adanya gigitan nyamuk Aedes aegypti yang menularkan demam berdarah di sekolah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh karenanya, ia mengaktifkan satgas jumantik (juru pemantau jentik) cilik yang beranggotakan para dokter cilik di sekolah tersebut. Mereka beroperasi tiap hari Jumat, bersamaan dengan kegiatan Jumat bersih. Semua tempat yang bisa menjadi tempat nyamuk bertelur, diperiksa dan dicatat apabila ditemukan ada jentik nyamuk.

Tidak hanya melakukan pendataan dan pembersihan, para jumantik cilik juga menjadi tenaga penyuluh bagi teman sebayanya. Dari kelas ke kelas, para jumantik cilik memberikan informasi tentang bahaya demam berdarah berikut cara pencegahannya.

Begitu pula jika ada laporan siswanya tertular demam berdarah. Meski sulit dipastikan dari mana mereka tertular, sekolah akan melaporkannya ke puskesmas dan kelurahan. Selanjutnya, pihak-pihak tersebut akan melakukan tindak lanjut seperti misalnya fogging bila diperlukan.

Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukkan, anak sekolah usia 7-12 tahun merupakan kelompok paling berisiko tertular demam berdarah. Pada kelompok ini, ditemukan sebanyak 229 kasus tiap 100.000 anak. Kelompok rentan berikutnya adalah usia 7 tahun ke bawah, yakni sebanyak 178 kasus tiap 100.000 anak.

(up/vit)

Berita Terkait