"Sedang dibahas, mengapa yang banyak tertular justru petugas kesehatan yang merawat pasien. Dikhawatirkan terjadi mutasi di lingkungan tertentu," kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, usai jumpa pers di Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Jl Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (5/5/2014).
Jika benar virus korona penyabab MERS-CoV mengalami mutasi di lingkungan rumah sakit, maka akan semakin sulit menemukan obat dan vaksin penangkalnya. Menurut Menkes, obat dan vaksin akan lebih susah diciptakan jika virus penyebab penyakitnya masih terus bermutasi.
Organisasi kesehatan dunia WHO hingga kini masih menyatakan limited human to human transmission. Artinya, penularan dari orang ke orang masih sangat terbatas dan tidak berkelanjutan. Penularan dimungkinkan terjadi melalui 2 cara sebagai berikut:
- Penularan langsung, yakni melalui percikan dahak atau droplet saat batuk atau bersin.
- Penularan tidak langsung, yakni melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi virus.
Pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan menghindari kontak dengan orang yang sakit saluran pernapasan. Cuci tangan dan perilaku hidup bersih juga bisa mencegah penularan, termasuk dengan menerapkan etika saat batuk. Misalnya, dengan menutupi hidung dan mulut dengan tisu.
"Sebenarnya sama seperti virus lainnya, asal bersih maka tidak terjadi penularan," kata Menkes.
(up/vit)











































