"Kami melakukan pengecekan ke kedutaan Saudi Arabia, ternyata pembatasan itu tidak ada," kata Menteri Agama Suryadharma Ali, dalam jumpa pers di Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (5/5/2014).
Pembatasan atau restriction memang tidak termasuk dalam rekomendasi organisasi kesehatan dunia WHO, terkait merebaknya MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus) di Arab Saudi. WHO baru memberikan peringatan penting terkait hal tersebut.
Meski korban meninggal terus berjatuhan, WHO hingga saat ini belum menetapkan MERS-CoV di Timur Tengah sebagai kejadian luar biasa. Sejak dilaporkan pertama kali tahun 2012, hingga kini penyakit pernapasan tersebut telah menewaskan lebih dari 93 orang.
Persebaran virus pun meluas. Jika sebelumnya hanya menulari penduduk lokal di Timur Tengah, belakangan mulai menjangkiti pula jamaah umroh. Beberapa negara di Eropa sudah lebih dulu melaporkan kasus pada warga yang punya riwayat bepergian ke Timur Tengah, sekarang kasusnya ditemukan juga di Asia Tenggara yakni di Filipina dan Malaysia. Bahkan terakhir, warga Indiana menjadi pasien pertama di Amerika Serikat.
Seorang warga negara Indonesia yang tinggal di Jeddah termasuk salah satu korban meninggal. Ia dirawat dengan keluhan sakit pernapasan, kemudian meninggal 7 hari kemudian dengan berbagai komplikasi termasuk gagal ginjal.
(up/vit)











































