Dugaan MERS di Bali, Kemenkes: Tak Disertai Demam, Kita Berharap Bukan MERS

Dugaan MERS di Bali, Kemenkes: Tak Disertai Demam, Kita Berharap Bukan MERS

- detikHealth
Rabu, 07 Mei 2014 15:45 WIB
Dugaan MERS di Bali, Kemenkes: Tak Disertai Demam, Kita Berharap Bukan MERS
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Seorang WNI di Bali dilaporkan meninggal dunia sepulang dari umrah, kini sampel dahaknya sedang diperiksa. Kementerian Kesehatan berharap pasien meninggal bukan karena MERS-CoV sebab tidak disertai demam tinggi.

"Kalau yang di Bali, informasinya tidak disertai demam tinggi. Ya kita berharap bukan MERS-CoV, kita tunggu saja," kata Prof dr Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan, ditemui di RS Paru Persahabatan, Jakarta Timur, Rabu (6/5/2014).

Kasus yang di Bali, menurut Prof Tjandra berbeda dengan kasus sehari hari sebelumnya di Medan. Pada kasus di medan, yang sama-sama meninggal seusai umrah di Arab Saudi, korban mengalami demam tinggi di atas 38 derajat Celcius. Namun demikian, kasus di Medan juga belum terkonfirmasi karena sampel dahaknya masih dalam pemeriksaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang jelas, Prof Tjandra yang juga anggota Emergency Committee WHO untuk MERS-CoV ini meluruskan bahwa dalam kasus seperti ini tidak dikenal istilah suspek. Ada 3 tingkatan status ketika ada pasien dicurigai tertular MERS-CoV, yakni sebagai berikut:

1. Case under investigation
Dicirikan dengan demam tinggi di atas 38 derajat celcius, batuk, pneumonia (radang paru), punya riwayat baru saja bepergian ke Timur Tengah)

2. Probable
Virus tidak ditemukan, tetapi lebih disebabkan karena tidak ada laboratorium untuk memeriksanya. Dalam banyak kasus, probable lebih cenderung ke positif.

3. Confirmed
Artinya virus yang dimaksud benar-benar ditemukan.

(up/vit)

Berita Terkait