Kamis, 08 Mei 2014 10:15 WIB

Anak Demam Tinggi 3 Hari Berturut-Turut? Cek ke Dokter, Siapa Tahu DBD

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Demam berdarah dengue (DBD) bukan lagi penyakit musiman. Hampir sepanjang tahun penyakit ini menjangkiti masyarakat. Bukan hanya orang dewasa yang kena, anak-anak pun bisa menderita penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes aegypti ini. Salah satu gejala penyakit ini adalah demam. Jika anak Anda demam tinggi dalam waktu 3 hari berturut-turut, sebaiknya dicek ke dokter, siapa tahu demam berdarah.

Dokter anak dari RS Persahabatan, dr Tjatur Kuat Sagoro, SpA menjelaskan demam berdarah tandanya demam tinggi, yaitu antara 2-10 hari. Demam berdarah terdiri atas 3 fase yakni fase demam, fase kritis, dan fase membaik. Fase demam rata-rata terjadi dalam 0-3 hari, fase kritis 3-5 hari, dan fase membaik hari ke 6-7.

"Jadi kalau anak demam hari pertama tidak usah terlalu khawatir itu demam berdarah, tidak perlu diperiksa darah. Kalau hari ketiga masih demam dan demamnya tinggi dan hanya demam saja, alangkah baiknya langsung ke dokter. Dokter nanti akan melakukan pemeriksaan darah sederhana yang satu jam selesai," terang dr Tjatur dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Kamis (8/5/2014).

Diterangkan dr Tjatur, yang jadi masalah adalah jika pasien baru datang di hari kelima alias tidak di masa kritis. Jika demikian yang terjadi, dokter biasanya mengalami kesulitan untuk segera mencegah demam berdarah. Alhasil si anak harus dilarikan ke ruang ICU.

"Jadi memang di hari ketiga harus ada pemeriksaan darah, kalau normal ya berarti aman. Kalau demam berdarah itu kalau hasilnya agak rendah, di mana trombositnya di bawah 100 ribu. Kalau rendah biasanya dokter menyuruh untuk rawat inap. Apalagi kalau panasnya tinggi," sambungnya.

Menurut dia, jika di hari ketiga trombositnya masih baik-baik saja maka tidak perlu dirawat, karena mungkin demamnya diakibatkan oleh sakit yang lain. "Demam berdarah sendiri ada yang namanya demam tinggi, ada yang namanya demam beradarah tinggi. Kalau masyarakat kan tahunya trombositnya saja yang turun. Kedua penyakit itu memang trombositnya sama-sama turun," tutur dr Tjatur.

dr Tjatur menjelaskan pada saat demam berdarah, kondisi hematokrit (proporsi volume darah yang terdiri dari sel darah merah) meningkat, sehingga terjadi pemindahan cairan dari pembuluh darah keluar. Pada saat ini terjadi, yang bersangkutan akan mengalami shock, sehingga jika tidak ditangani pada hari ketiga dan kelima bisa berbahaya. Karena itulah pada saat hematokrit meningkat, pasien disarankan untuk dirawat.

"Tanda-tandanya adalah panas tinggi, kemudian panasnya turun dan anaknya mau tidur terus. Misalnya ada dua anak, mereka ini hari ketiga panasnya sama-sama turun, tapi yang satu anaknya aktif mau makan, minum, main nah itu demam tinggi, walaupun trombositnya turun. Kalau demam berdarah tinggi biasanya orang tuanya datang kepada saya dan bilang, dok kemarin pas panas dia masih mau makan minum, tapi ini pas panasnya turun tidak mau makan maunya tidur terus," terang dr Tjatur.

"Biasanya saat itu dokter akan memberikan cairannya dipercepat. Cairan yang tadinya pindah itu, yang terjadi pemindahan tadi bisa keluar ke paru-paru atau perut, bisa menyebabkan sesak napas dan kembung. Kalau darahnya kental pembuluh darahnya cairannya jadi kurang," imbuhnya.

(vit/vit)