Prof Dr dr Sri Rezeki S Hadinegoro SpA(K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM yang melakukan penelitian mengatakan bahwa meski penelitian belum selesai, sementara ini tingkat efikasi atau kemanjuran vaksin DBD mencapai 56 persen. "Ya memang sudah ada angka efikasinya. Kira-kira 56 persen," tutur Prof Sri ketika dihubungi detikHealth dan ditulis Kamis (8/5/2014).
Artinya, jika ada 10.000 anak yang diberikan vaksin DBD, kemungkinan besar 5.000 hingga 5.500 anak memiliki kekebalan terhadap terhadap virus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti tersebut. Prof Sri menambahkan bahwa angka 56 persen tersebut bukanlah angka total, melainkan masih angka perkiraan. Hasil sebenarnya baru akan diketahui Juni mendatang setelah dilihat seluruh hasilnya dari 3 wilayah percobaan yakni Jakarta, Bandung dan Denpasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal tersebut, Prof Sri menyampaikan bahwa memang penggunaan vaksin di wilayah endemis tidak akan begitu signikan. Hal ini dikarenakan pada wilayah endemis, tubuh manusia biasanya akan membentuk antibodi secara otomatis yang berpengaruh terhadap tidak efektifnya vaksin.
"Memang pada wilayah endemis, penggunaan vaksin tidak begitu signifikan. Tidak hanya pada vaksin DBD saja, vaksin penyakit lain seperti tifus dan hepatitis juga seperti itu," ungkap Prof Sri.
Namun menurutnya, angka 56 persen tersebut sudah dalam tahap yang memuaskan. Dengan begitu, ke depannya vaksin-vaksin DBD baru akan mempunyai bahan pembanding sebagai pembelajaran. "Artinya ya nanti kekurangan vaksin ini mungkin bisa ditutupi oleh vaksin berikutnya. Lalu kekurangan vaksin berikutnya bisa ditutupi dengan vaksin yang berikutnya lagi. Begitu seterusnya hingga sempurna," ucap Prof Sri.
(vit/vit)











































