Dengan Kostum Ini, Orang yang Lumpuh Bisa Dilatih Berjalan

Dengan Kostum Ini, Orang yang Lumpuh Bisa Dilatih Berjalan

- detikHealth
Jumat, 09 Mei 2014 14:00 WIB
Dengan Kostum Ini, Orang yang Lumpuh Bisa Dilatih Berjalan
(dok: BBC)
Sao Paulo, Brazil - Sekali mengalami kelumpuhan, kaki atau tangan biasanya tak dapat digerakkan kembali, kecuali dengan alat bantu. Organ prostetik pun makin mudah didapat, dengan harga yang beragam. Namun terobosan baru juga terus dibuat, untuk membuat si lumpuh kembali bisa berjalan lagi.

Salah satunya adalah kostum robot atau eksoskeleton yang dikembangkan oleh sekelompok ilmuwan yang ambil bagian dalam Walk Again Project. Teknologi ini telah dipelopori Dr Miguel Nicolelis sejak 10 tahun lalu.

Awalnya Dr Miguel melakukan percobaan pada monyet. Ternyata monyet saja dapat mengendalikan gerakan tangan virtualnya hanya dengan menggunakan otaknya. Ini tentu memberi harapan bahwa manusai juga dapat melakukan lebih dari itu, mengingat otak manusia sedikit lebih besar dari monyet.

Untuk itu pakar ilmu saraf asal Brazil yang bekerja di Duke University, California Utara ini dan timnya membuat kostum tersebut lalu mengujicobakannya pada 8 pasien lumpuh berusia antara 20-35 tahun. Percobaan dilaksanakan di sebuah lab di Sao Paulo sejak bulan November 2003.

"Kami mulai latihan dengan simulator. Dalam waktu beberapa hari, empat pasien diminta mengenakan kostum (eksoskeleton) agar mereka dapat mencoba berjalan lagi untuk pertama kalinya. Dan salah satu dari mereka bahkan telah menggunakan kekuatan mentalnya untuk menendang bola," tutur Dr Miguel dalam bahasa Portugis.

Itu berarti kostum eksoskeleton itu memang dapat dikendalikan oleh otak, dan teknologi ini pun mengirimkan sinyal feedback ke pasien.

Di kepala pasien ditutupi semacam topi yang dapat menangkap sinyal-sinyal dari otak dan meneruskannya ke komputer yang ada pada eksoskeleton. Komputer ini nantinya memecah kode sinyal dari otak lalu mengirimkannya ke kaki pasien.

Kostum robot ini dapat digunakan selama dua jam, dengan bahan bakar berupa hidrolik dan baterai yang ada backpack di belakang eksoskeleton.

Kelebihan lain teknologi eksoskeleton ini adalah sensor yang ada pada kulit buatan yang 'menempel' pada robot, karena sensor ini dapat merasakan sensasi yang sama laiknya kulit asli.

"Ketika kaki dari eksoskeleton menyentuh tanah itu kan ada tekanan, sensornya bisa merasakan sensor itu, bahkan sebelum kaki menjejak ke tanah. Ini tergolong baru," papar peneliti lainnya, Dr Gordon Cheng dari Technical University of Munich.

Sensor itu juga memberikan informasi tentang suhu dan getaran yang dirasakan di sekitar pengguna kostum, lalu mengirimkannya ke kulit buatan yang ada pada kostum.

Menurut Dr Miguel, ketika eksoskeleton mulai bergerak dan menyentuh tanah, sinyal ini akan dikirimkan ke sebuah vibrator elektronik yang ada di lengan pasien. Dan vibrator ini secara otomatis merangsang kulit pasien.

"Bila Anda melatihnya dalam waktu lama, maka otak Anda akan mulai mengaitkan gerakan-gerakan kaki itu dengan vibrasi pada lengan. Jadi lama-lama sensasi bahwa ia memiliki kaki akan tumbuh dan ia pun bisa berjalan lagi," jelasnya.

Namun Dr Miguel memperingatkan bila percobaan ini masih berada dalam tahapan awal. Kendati begitu, mereka berencana melakukan demonstrasi untuk pertama kalinya dalam acara pembukaan Piala Dunia 2014 di Brazil, yang rencananya akan berlangsung pada tanggal 12 Juni mendatang.

Saat demonstrasi, salah satu pasien Dr Miguel yang telah dilatih menggunakan kostum eksoskeleton akan mencoba melakukan tendangan pertama di ajang kompetisi sepak bola terbesar di dunia itu.

"Kami ingin menyampaikan bahwa sains dan teknologi bisa jadi agen perubahan sosial, utamanya untuk mengurangi penderitaan dan keterbatasan fisik jutaan orang di penjuru dunia," pungkas Dr Miguel seperti dikutip dari BBC, Kamis (8/5/2014).



(lil/vit)

Berita Terkait