"Banyak hal yang dapat memunculkan alergi. Hewan kecil seperti kutu debu rumah, berbagai makanan seperti susu sapi, telur, buah-buahan, bahkan nasi," tutur dr Sumardiono, Sp(A)K, tim kurikulum Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada dalam acara Jumpa Pakar bertajuk Kenali Alergi Susu Sapi, Optimalkan Tumbuh Kembang Si Kecil.
Menurutnya susu menempati posisi kedua sebagai makanan yang paling sering menyebabkan alergi, dengan persentase 22 persen pada anak-anak dan 15 persen pada orang dewasa. Penyebab alergi utama pada anak adalah telur dengan persentase kasus sebanyak 29 persen, sedangkan makanan penyebab alergi utama pada orang dewasa ialah ikan dengan persentase kasus sebanyak 18 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada bayi, angka kejadian alergi susu sapi adalah 0,5 sampai 7,5 persen dari kelahiran bayi per tahun. Reaksi ini biasanya terjadi ketika anak berusia di bawah satu tahun dan akan berkurang seiring pertambahan usia.
"Manifestasi utama dari alergi susu sapi adalah dermatitis atopi atau eksema. Gejalanya yakni merah-merah pada pipi, gangguan pencernaan seperti diare, asma, dan shock anafilaksis meski jarang,"
Meski demikian, lanjut dr Dumadiono, alergi hanya terjadi ketika tubuh pernah berkontak dengan zat penyebab alergi atau alergen. Oleh karena itu, jika seseorang mengalami muntah-muntah atau reaksi lain setelah mengonsumsi makanan yang baru pertama kali ia santap, reaksi itu bukan disebut alergi. Lain halnya jika muntah-muntah terjadi pada konsumsi kedua dan seterusnya.
"Alergi itu harus sudah pernah kontak. Itu kata kunci untuk alergi," terangnya.
Hal tersebut juga yang menyebabkan tingginya kasus alergi susu pada bayi atau anak. Pasalnya bayi lebih dahulu mengonsumsi susu ketimbang makanan lain seperti ikan atau seafood.
(vit/vit)










































