Menurut Centers for Disease Control and Prevention AS, orang-orang yang dianggap berisiko ini antara lain:
- Pasangan yang suka bercinta tanpa kondom
- Tidak mengidap HIV tapi melakukan hubungan intim dengan penderita HIV
- Pria biseksual atau homoseksual yang pernah mengidap penyakit menular seksual tertentu dalam kurun enam bulan terakhir dan tidak hanya berhubungan dengan satu orang saja
- Pria atau wanita heteroseksual yang tidak selalu memakai kondom ketika bercinta dengan pasangannya yang sebenarnya berisiko, dan berganti-ganti pasangan
- Orang yang pernah berbagi obat terlarang seperti paraphernalia melalui suntikan.
Untuk itu belakangan mengeluarkan panduan baru untuk mencegah orang-orang yang berisiko ini agar tidak benar-benar terserang HIV. Caranya adalah meminta mereka mengonsumsi obat yang tergolong ke dalam PrEP (pre-exposure prophylaxis) setiap hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin suatu hari nanti ada vaksin atau obat lain yang akan menghentikan epidemi HIV, tapi setidaknya PrEP bisa jadi sarana yang kuat dan berpotensi mengurangi epidemi HIV di AS sekarang ini," tutur Dr Jonathan Mermin, direktur National Center for HIV-AIDS, Viral Hepatitis, STD and TB Prevention, CDC, seperti dikutip dari CNN, Sabtu (17/5/2014).
Namun satu-satunya obat yang dapat memenuhi kriteria PrEP ini tak lain hanyalah Truvada. Obat yang disetujui penggunaannya oleh FDA di tahun 2012 ini merupakan kombinasi antara dua obat antiretroviral untuk mencegah HIV.
Masalahnya, Truvada bukanlah obat yang murah. Konsumsi Truvada dalam kurun sebulan dapat menghabiskan biaya berkisar antara 1.300-1.700 dollar AS (sekitar Rp 15-19 juta). Akan tetapi tengah diupayakan agar biaya ini ter-cover oleh asuransi.
Pakar imunologi yang concern terhadap HIV-AIDS, Dr Anthony Fauci mengatakan cara ini sangatlah efektif untuk mencegah penyebaran virus penyebab AIDS tersebut.
"Manfaatnya tak hanya bagi pasien yang berisiko HIV namun juga membantu mengurangi kasus infeksi HIV baru di penjuru Amerika. Dan yang perlu diingat, obat ini harus dikonsumsi berbarengan dengan penggunaan kondom, dan bukan semata menggantikan kondom," tegas direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases, National Institutes of Health tersebut.











































