Berikut beberapa orang yang kondisi kesehatannya berhasil dibantu oleh printer 3D, seperti halnya dirangkum detikHealth, Selasa (20/5/2014).
|
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
|
1. Stephen Power
|
|
Namun dokter enggan memperbaiki pipi kiri dan soket matanya karena mereka khawatir prosedur tersebut akan merusak penglihatan Stephen.
Tim bedah dari Morristown Hospital, Swansea, Wales pun akhirnya berkolaborasi dengan National Cantre for Product Design and Development Research (PDR) dari Cardiff Metropolitan University untuk mengembalikan wajah Stephen agar kembali simetris dengan menciptakan model tiga dimensi wajah pria ini lalu membuat implan yang dicetak dengan printer 3D.
Wajah Stephen pun bisa kembali utuh meski pria berusia 29 tahun itu harus menjalani operasi rekonstruksi selama berbulan-bulan.
1. Stephen Power
|
|
Namun dokter enggan memperbaiki pipi kiri dan soket matanya karena mereka khawatir prosedur tersebut akan merusak penglihatan Stephen.
Tim bedah dari Morristown Hospital, Swansea, Wales pun akhirnya berkolaborasi dengan National Cantre for Product Design and Development Research (PDR) dari Cardiff Metropolitan University untuk mengembalikan wajah Stephen agar kembali simetris dengan menciptakan model tiga dimensi wajah pria ini lalu membuat implan yang dicetak dengan printer 3D.
Wajah Stephen pun bisa kembali utuh meski pria berusia 29 tahun itu harus menjalani operasi rekonstruksi selama berbulan-bulan.
2. Kaiba Gionfriddo
|
|
Beruntung bayi ini segera dirujuk ke Dr Glenn Green, profesor otolaringologi anak dari University of Michigan yang tengah membuat alat bantu pernapasan yang terbuat dari biodegradable poliester dan dicetak memakai printer 3D. Setelah mendapat izin khusus dari FDA, tim dokter ini pun memasangkan pipa tadi ke saluran pernapasan Kaiba.
Operasi pemasangan dilakukan pada bulan Februari 2012, saat usia Kaiba masih tiga bulan. "Bahan plastik yang digunakan dirancang untuk terurai dan akan diserap oleh tubuh secara bertahap selama 3 tahun. Nantinya, plastik ini akan diganti oleh jaringan sehat," kata insinyur biomedis yang memimpin operasi, Scott Hollister.
Ternyata hasilnya ajaib. Seorang bayi yang awalnya diprediksi tidak akan bisa meninggalkan rumah sakit dalam keadaan hidup bisa bernafas normal untuk pertama kalinya. Kini usia Kaiba sudah hampir 19 bulan dan baik-baik saja. Setelah keberhasilan ini, para peneliti tengah menunggu hak paten dari penemuannya.
2. Kaiba Gionfriddo
|
|
Beruntung bayi ini segera dirujuk ke Dr Glenn Green, profesor otolaringologi anak dari University of Michigan yang tengah membuat alat bantu pernapasan yang terbuat dari biodegradable poliester dan dicetak memakai printer 3D. Setelah mendapat izin khusus dari FDA, tim dokter ini pun memasangkan pipa tadi ke saluran pernapasan Kaiba.
Operasi pemasangan dilakukan pada bulan Februari 2012, saat usia Kaiba masih tiga bulan. "Bahan plastik yang digunakan dirancang untuk terurai dan akan diserap oleh tubuh secara bertahap selama 3 tahun. Nantinya, plastik ini akan diganti oleh jaringan sehat," kata insinyur biomedis yang memimpin operasi, Scott Hollister.
Ternyata hasilnya ajaib. Seorang bayi yang awalnya diprediksi tidak akan bisa meninggalkan rumah sakit dalam keadaan hidup bisa bernafas normal untuk pertama kalinya. Kini usia Kaiba sudah hampir 19 bulan dan baik-baik saja. Setelah keberhasilan ini, para peneliti tengah menunggu hak paten dari penemuannya.
3. Richard van As
|
|
Sembari menunggu keputusan dokter, Richard menghabiskan waktu untuk browsing di internet dan menemukan sebuah video amatir tentang cara membuat jari mekanis sederhana. Dari situ pria asal Afsel ini terinspirasi untuk mendirikan perusahaan pembuat tangan mekanis yang dinamai 'Robohand'.
Resmi diluncurkan pada tahun 2012, Robohand memproduksi bagian tubuh mekanis yang dicetak dengan menggunakan mesin printer tiga dimensi (3D). Kabar baiknya, desain mereka bersifat terbuka. Alhasil siapa pun yang memiliki printer 3D dapat mencetak jari, tangan, maupun lengan mekanis.
Van As menyederhanakan seluruh proses di perusahannya, ia menghapus prosedur dan biaya yang tidak penting. Itulah mengapa sebuah lengan robotik untuk orang dewasa buatan Richard hanya menghabiskan biaya 2.000 dolar saja (sekitar Rp 22,8 juta). Proses pembuatan lengan mekanis di Robohand juga tak lama, yakni lima setengah jam untuk proses pencetakan dan sepuluh hingga lima belas jam untuk proses perakitan.
Robohand pertama dibuat untuk Liam, seorang anak berusia lima tahun di Afrika Selatan. Amniotic band syndrome (ABS) membuat tangan kanan anak itu tidak dilengkapi jari. Tetapi, beberapa menit saja setelah mengenakan tangan mekanis Robohand, Liam telah piawai mengoperasikan lengan itu untuk mengambil berbagai benda.
3. Richard van As
|
|
Sembari menunggu keputusan dokter, Richard menghabiskan waktu untuk browsing di internet dan menemukan sebuah video amatir tentang cara membuat jari mekanis sederhana. Dari situ pria asal Afsel ini terinspirasi untuk mendirikan perusahaan pembuat tangan mekanis yang dinamai 'Robohand'.
Resmi diluncurkan pada tahun 2012, Robohand memproduksi bagian tubuh mekanis yang dicetak dengan menggunakan mesin printer tiga dimensi (3D). Kabar baiknya, desain mereka bersifat terbuka. Alhasil siapa pun yang memiliki printer 3D dapat mencetak jari, tangan, maupun lengan mekanis.
Van As menyederhanakan seluruh proses di perusahannya, ia menghapus prosedur dan biaya yang tidak penting. Itulah mengapa sebuah lengan robotik untuk orang dewasa buatan Richard hanya menghabiskan biaya 2.000 dolar saja (sekitar Rp 22,8 juta). Proses pembuatan lengan mekanis di Robohand juga tak lama, yakni lima setengah jam untuk proses pencetakan dan sepuluh hingga lima belas jam untuk proses perakitan.
Robohand pertama dibuat untuk Liam, seorang anak berusia lima tahun di Afrika Selatan. Amniotic band syndrome (ABS) membuat tangan kanan anak itu tidak dilengkapi jari. Tetapi, beberapa menit saja setelah mengenakan tangan mekanis Robohand, Liam telah piawai mengoperasikan lengan itu untuk mengambil berbagai benda.
4. Wanita asal Belanda
|
|
Jika dibiarkan, tempurung kepala yang terus menebal bisa menyebabkan wanita berusia 22 tahun itu kehilangan fungsi krusial otak, atau bahkan terancam kehilangan nyawa.
Spesialis bedah otak, Dr Bon Verweij dan Dr Marvick Muradin dari University Medical Centre Utrecht pun memutuskan untuk mengganti tengkorak wanita yang dirahasiakan identitasnya itu dengan tengkorak plastik yang dicetak memakai printer 3D. Prosedur mengganti seluruh bagian belakang tengkorak pasien, mulai dari garis rambut depan hingga bagian atas leher yang dilakukan Dr Verweij ini pun diklaim yang pertama di dunia.
4. Wanita asal Belanda
|
|
Jika dibiarkan, tempurung kepala yang terus menebal bisa menyebabkan wanita berusia 22 tahun itu kehilangan fungsi krusial otak, atau bahkan terancam kehilangan nyawa.
Spesialis bedah otak, Dr Bon Verweij dan Dr Marvick Muradin dari University Medical Centre Utrecht pun memutuskan untuk mengganti tengkorak wanita yang dirahasiakan identitasnya itu dengan tengkorak plastik yang dicetak memakai printer 3D. Prosedur mengganti seluruh bagian belakang tengkorak pasien, mulai dari garis rambut depan hingga bagian atas leher yang dilakukan Dr Verweij ini pun diklaim yang pertama di dunia.
5. Stevenson Joseph
|
|
Setelah beberapa bulan menanti, John mengapalkan tangan prostetik itu ke Haiti, tempat tinggal Stevenson. Ia pun didapuk sebagai penerima organ prostetik yang dicetak dengan printer 3D pertama di Haiti.
"Prostetik cetakan 3D ternyata lebih anatomis dan memperluas pergerakan penggunanya. Dan yang jelas prostetik yang dipakai Stevenson berfungsi. Itu membuatnya bahagia, begitu juga dengan kami," kata Thomas Iwalla, salah seorang teknisi ortopedi dari RS Bernard Mevs, yang membantu pemasangan tangan prostetik Stevenson.
"Sekarang saya bisa memegang balon, bermain basket, menggenggam remote TV dan mendorong teman saya yang duduk di kursi roda. Saya juga bisa memegang botol air atau tas. Saya sangat menyukainya," tandas Stevenson bangga.
5. Stevenson Joseph
|
|
Setelah beberapa bulan menanti, John mengapalkan tangan prostetik itu ke Haiti, tempat tinggal Stevenson. Ia pun didapuk sebagai penerima organ prostetik yang dicetak dengan printer 3D pertama di Haiti.
"Prostetik cetakan 3D ternyata lebih anatomis dan memperluas pergerakan penggunanya. Dan yang jelas prostetik yang dipakai Stevenson berfungsi. Itu membuatnya bahagia, begitu juga dengan kami," kata Thomas Iwalla, salah seorang teknisi ortopedi dari RS Bernard Mevs, yang membantu pemasangan tangan prostetik Stevenson.
"Sekarang saya bisa memegang balon, bermain basket, menggenggam remote TV dan mendorong teman saya yang duduk di kursi roda. Saya juga bisa memegang botol air atau tas. Saya sangat menyukainya," tandas Stevenson bangga.
6. Garrett Peterson
|
|
Hingga akhirnya pada bulan Mei 2013, ayah Garrett membaca artikel tentang Kaiba. Garrett pun dirujuk ke Dr Glenn dan setelah melakukan CT scan pada trakea dan bronkusnya, pada bulan Januari 2014, Dr Glenn pun melakukan operasi yang sama pada Garrett.
"Perasaan kami sangat bahagia karena tahu bahwa alat ini dapat menyalamatkan nyawa anak lainnya," tutur rekan Dr Glenn, Scott Hollister, PhD.
6. Garrett Peterson
|
|
Hingga akhirnya pada bulan Mei 2013, ayah Garrett membaca artikel tentang Kaiba. Garrett pun dirujuk ke Dr Glenn dan setelah melakukan CT scan pada trakea dan bronkusnya, pada bulan Januari 2014, Dr Glenn pun melakukan operasi yang sama pada Garrett.
"Perasaan kami sangat bahagia karena tahu bahwa alat ini dapat menyalamatkan nyawa anak lainnya," tutur rekan Dr Glenn, Scott Hollister, PhD.
Halaman 2 dari 14










































