Pria yang akrab disapa Emil tersebut mengatakan bahwa penggunaan media sosial sangat penting dalam mennyukseskan program tersebut. Dengan menggunakan media sosial twitter, dirinya dapat menyapa sekaligus memberikan apresiasi kepada warga kota Bandung.
"Banyak yang masuk ke twitter bilang 'Pak Wali saya bela-belain mulut asem hari Selasa aja' atau 'Pak Wali saya sudah berhasil tiga minggu berhenti merokok'. Istilah Bahasa Sundanya itu pengen dipuji mereun," ujar Emil sambil tersenyum ketika ditemui detikHealth usai acara pemberian penghargaan oleh Komnas Pengendalian Tembakau di Griya Jenggala, Jalan Jenggala I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan ditulis Selasa (20/5/2014).
Dengan mengapresiasi warga, Ridwan menilai perubahan ke arah yang lebih baik dengan tidak merokok selama satu hari saja merupakan keberhasilan di bidang perubahan, meskipun sifatnya mencicil dan tidak sekaligus. Dengan diapresiasi menurutnya, warga akan semakin bersemangat karena kesuksesannya dihargai oleh orang lain.
Tak hanya mengapresiasi warga, alumni ITB itu juga sering kali mendapat curhatan dari warganya soal asap rokok. Dikatakannya bahwa sebagian besar ibu-ibu dan wanita sering kali mengirim pesan ke twitternya karena merasa terganggu dengan asap rokok di angkutan umum.
Curhatan tersebut akhirnya menjadi motivasi Emil untuk semakin menegakkan peraturan soal pelarangan iklan rokok. Selain itu, curhatan warga juga menambah motivasinya untuk stop merokok total dua tahun yang lalu.
Harapannya memang dengan menggunakan media sosial, perubahan ke arah yang lebih baik dapat dilakukan oleh warga kota Bandung khususnya, dan rakyat Indonesia secara umum. Hal itu sejalan dengan prinsip pemerintahannya yang lebih mengedepankan perubahan secara satu per satu.
"Prinsip saya memang mengubah sebuah kultur butuh waktu. Pelan-pelan sehingga lebih efektif. Lebih baik evolusi daripada revolusi," ujar Emil yang saat itu mengenakan setelan hitam.
(up/up)











































