Sebuah penelitian mengamati berapa lama bakteri Escherichia coli (E.coli) dan MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus) bisa bertahan hidup di pesawat. Bakteri-bakteri ini kerap ditemukan di tombol flush toilet, bahkan di pegangan tempat duduk penumpang.
Para ilmuwan dari Auburn University menggunakan sampel bakteri yang disuplai dari Delta Airlines dalam penelitian itu. Sampel-sampel dibiakkan dalam kondisi yang merupakan simulasi kabin pesawat, yakni suhu 75 Fahrenheit dan kelembaban 20 persen.
Secara umum, bakteri-bakteri tersebut bertahan hidup lebih lama di permukaan berpori. Misalnya di kantung kursi pesawat, MRSA bisa hidup selama 7 hari sedangkan di sandaran tangan berbahan karet bisa hidup 6 hari. Di tirai jendela, MRSA hidup selama 5 hari sedangkan di pegangan toilet justru cuma 4 hari.
E.coli, yang juga ditemukan dalam tinja, bertahan hidup 4 hari di sandaran tangan tempat duduk berbahan karet. Di meja lipat berbahan plastik bisa hidup 3 hari, sedangkan di besi pegangan toilet bisa hidup selama 2 hari saja.
"Di sudut kecil, seperti yang terbentuk oleh pori, mereka terhindari dari pengaruh lingkungan seperti dehidrasi, ultra violet, dan dsinfektan," kata sang peneliti, Kiril Vaglenov, seperti dikutip dari CNN, Rabu (21/5/2014).
Untungnya, menurut Kiril permukaan berpori juga sekaligus membatasi persebaran bakteri. Justru di permukaan licin seperti sandaran tangan dari karet dan meja lipat, bakteri lebih mudah menyebar. Pori yang lebih sedikit pada permukaan tersebut membuat bakteri mudah terlepas.
Wah, harus sering-sering cuci tangan kalau begitu!
(up/vit)











































