Dikatakan Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Daeng Muhammad Faqih MH, pemeriksaan kesehatan ini menilai disabilitas para calon, bukan sakit atau tidaknya. Jika hanya sakit flu, batuk, atau penyakit lain yang tidak mengganggu seseorang untuk menjalankan tugasnya sebagai presiden maka tidak menjadi masalah.
"Yang dinilai intinya disabilitas, kemampuan atau ketidakmampuan seseorang dengan jabatan yang akan ia duduki. Kriterianya antara lain gangguan mental yang juga dinilai," ucap dr Daeng saat ditemui di Lotte Shopping Avenue, Kuningan, Jakarta, Kamis (22/5/2014).
Menurut dr Daeng, tidak boleh seorang presiden sebagai orang nomor satu yang harus mengambil keputusan dan memberi kebijakan memiliki disabilitas atau ketidakmampuan dalam masalah mental. Kriteria lain yang menjadi penilaian adalah fungsi luhur yakni bagaiamana cara berpikir dan menarik kesimpulan yang dimiliki para calon. Kemudian dari kemampuan fisik yang terkait dengan pekerjaan misalnya pendengaran dan penglihatan.
"Itu dinilai apakah ada gangguan yang masuk kategori disabilitas misalnya jarak pandang sama sekali nol meter, janganlah jadi presiden," imbuh dr Daeng.
Tetapi jika ada kelainan yang tidak menganggu seperti mata minus, maka tidak masalah karena tidak mengganggu tugas para capres dan cawapres ke depannya. Semua organ seperti jantung, ginjal, dan paru-paru pun dinilai.
Sama ketika memeriksa kriteria lain, saat memeriksa kondisi organ, ditegaskan dr Daeng bukan sakit tidaknya tetapi mampu atau tidak mampunya yang bersangkutan dalam menyelenggarakan tugas lima tahun ke depan ditilik dari kondisi organ tubuhnya.
Contohnya saja untuk penyakit jantung ada gradasi di mana tim pemeriksa yang independen sudah memutuskan jika penyakit jantung sudah mencapai grade empat maka masuk kategori disabilitas.
"Jadi titik kuncinya dia disabilitas atau tidak, bukan sakit, ada gangguan atau tidak. Pendengaran bisa ada gangguan tapi bisa jadi dia masih mendengar dalam jarak tertentu. Kalau ada sakit jantung tapi tidak parah ya tidak termasuk disabilitas," ucap dr Daeng.
(rdn/up)











































