Ya, penelitian terbaru dari Salk Institute di AS menunjukkan bahwa sindrom makan di tengah malam kemungkinan besar muncul saat gen yang melakukan sinkronisasi antara pola makan dan tidur mengalami kerusakan.
Penelitian ini disimpulkan ketika para peneliti melakukan studi pada tikus. Dikatakan Satchidananda Panda dari Salk Institute, sekitar satu sampai dua persen orang mengalami kondisi ini.
Tanda-tanda sindrom ini yakni bangun di malam hari dan tidak bisa kembali tidur jika belum makan. Menurut Panda, sindrom ini kadang sudah dialami seseorang dalam waktu yang lama tapi tidak disadari karena sering dianggap tidak ada.
"Sindrom baru ini sudah diklasifikasikan sebagai gangguan makan meskipun penyebabnya sampai saat ini belum diketahui pasti," tutur Panda seperti dikutip dari BBC, Jumat (23/5/2014).
Seperti diketahui, makanan yang 'ala kadarnya' di malam hari cenderung mengandung kalori tinggi dan menyebabkan kenaikan berat badan. Apalagi jika hal ini terjadi akibat sindrom makan tengah malam, di mana setelah melahap makanan seseorang langsung tidur, bisa dipastikan berat badannya akan bertambah.
Penelitian yang diterbitkan dalam Cell Reports, mengamati tikus yang dibiakkan dengan gen jam tubuh manusia. Ketika gen tersebut dinonaktifkan sementara, tikus makan di jam-jam seharusnya mereka tidur.
Mutasi yang berkaitan dengan gen jam tubuh, yang terlibat dalam gangguan tidur pun menyebabkan tikus tidur kembali setelah makan. Oleh karena itu peneliti berpikir jika gen ini berguna untuk mengatur jam makan dan tidur yang tidak sinkron.
"Terlihat bahwa kesalahan pada gen bisa menyebabkan gangguan pola tidur dan makan manusia. Orang dengan sindrom makan malam ini tidak akan menyadarinya padahal gangguan ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Hal ini sudah seharusnya memicu para peneliti untuk mencari jalan keluar bagaimana siklus ini bisa diatur di masa mendatang," ucap Panda.
(rdn/up)











































