"Proses transplantasi hati butuh waktu karena ada beberapa syarat yakni umurnya minimal satu tahun dan berat badannya mencukupi, jadi kami bukan menunda-nunda," tegas direktur utama RSCM Dr dr C.H.Soejono, SpPD-K.Ger di auditorium Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Selasa (3/6/2014)
"Kami juga tidak pernah meminta uang Rp 2 miliar karena biaya transplantasi hati pun dananya sekitar Rp 800-900 juta. 30 Persennya sudah dicover BPJS dan sisanya dari bantuan pemerintah dalam artian kami RSCM juga jika ada bantuan dari pemerintah daerah atau perusahaan melalui program CSR-nya," terang dr Soejono.
Selain itu, dikatakan dr Soejono pasien juga belum mendaftarkan diri untuk transplantasi hati sehingga tidak mungkin pihak administrasi memberi tahukan biaya yang dibutuhkan. Hadir dalam kesempatan yang sama, Khairul Ashari, ayah pasien transplantasi usia 3 tahun mengatakan jika ia tidak mengeluarkan biaya sepeserpun.
"Biaya sekitar Rp 800 juta tapi ditanggung sama BPJS dan RS, ya pemerintah lah. Paling di sini kita butuh biaya hidup saja, tapi kalau untuk biaya transplantasi kita tidak kena sama sekali," kata pria asal Medan ini.
Sementara itu, Dr dr Hanifah Oswari SpA(K) konsultan Gastro-hepatologi Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM mengatakan selama dirawat di RSCM, bayi Pramudita juga mendapat penanganan sesuai prosedur yang ada. Dokter sudah melakukan proses biopsi, endoskopi, pengambilan cairan perut, dan saat ini masih dalam penanganan infeksi.
Ketika dirujuk dari RSUD Bekasi saat berusia empat bulan, pasien mengalami kelainan hati berat dengan infeksi saluran kemih dan ukuran kepala lebih kecil dari rata-rata. Saat datang gizinya kurang maka ada perbaikan gizi.
"Selain itu ada infeksi dan ini bisa dimaklumi karena pasien mengalami siroris atau pengerasan hati sehingga tekstur hatinya tidak beraturan hingga sering terjadi infeksi. Yang penting kita atasi kegawatan dulu, transplantasi hati bisa dilakukan jika kondisi kegawatannya sudah diatasi," tutur dr Hanifah.
Terakhir tanggal 9 Mei 2014, pasien mendaftar untuk kontrol di poliklinik Gastro-hepatologi tetapi setelah dilakukan pemanggilan beberapa kali pasien tidak ada.
(rdn/up)











































