"Kenali dulu definisi tumor. Tumor itu benjolan, ada yang jinak dan ada yang ganas (kanker), jangan dicampur. Apakah kalau ibunya kena kanker, sudah pasti anaknya juga kena? Belum tentu," pungkas dr Alfiah Amiruddin MD, MS, dokter spesialis bedah konsultan payudara RS Mitra Kemayoran, dalam media workshop yang diselenggarakan di RS Mitra Kemayoran, Jl Landas Pacu Timur, Kemayoran, Jakarta, Selasa (3/6/2014).
Menurut dokter yang menyelesaikan studi ilmu bedahnya di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) ini, harus dilihat terlebih dahulu apakah sel kanker tersebut bermutasi atau tidak. "Dan yang harus dicek itu bukan langsung anaknya, tapi ibunya. Ini banyak keliru," lanjutnya.
Sekitar 90 persen kanker disebabkan oleh lingkungan, bukan genetik. Sehingga perlu diketahui bahwa genetik bukanlah penyebab langsung timbulnya penyakit. Dengan demikian, yang diturunkan adalah faktor risiko genetiknya, bukan penyakit kankernya secara langsung.
"Kanker payudara bersifat genetik 5-10 persen saja, tidak banyak porsinya. Kalau belajar genetik, setiap orang itu punya kromosom, jadi tetap punya peluang untuk terkena kanker. Meskipun tidak semudah itu kalau ibunya kanker payudara, maka anaknya juga kena," tutur dr Alfiah.
Meskipun belum bisa dipastikan apa penyebab dari kanker payudara, beberapa faktor diyakini memicu munculnya risiko yang lebih besar. Di antaranya diet tinggi lemak, kurang makan buah dan sayur, kurang aktivitas fisik, berat badan berlebih, kebiasaan merokok, serta kebiasaan makan makanan cepat saji dan makanan yang diawetkan.
(ajg/up)











































