Sebelumnya para pakar hanya tahu bila gen bernama BRCA2 ini ada kaitannya dengan peningkatan risiko sejumlah kanker, antara lain kanker payudara, ovarium hingga prostat pada pria. Akan tetapi ketika peneliti dari Institute of Cancer Research di London membandingkan kode genetik pada pasien kanker paru dengan orang sehat, mereka menemukan gen BRCA ternyata dapat menambah peluang kanker paru.
Apalagi bila orang yang 'berbakat' gen BRCA tadi juga merokok. Jadi bila merokok saja, risiko kanker paru yang dimilikinya mencapai 40 kali lebih besar dari orang yang tidak merokok, namun bila ternyata dalam tubuhnya ada 'bakat' atau terjadi mutasi gen BRCA2 tadi, maka peluangnya akan mencapai 80 kali lebih besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi ada peningkatan yang masif pada risiko kanker parunya dan ada populasi tertentu yang berisiko sangat tinggi. Untuk itu hal terpenting yang bisa dilakukan adalah berhenti merokok; karena tak hanya dapat meningkatkan risiko kanker paru, tapi juga memicu penyakit lainnya," tandas salah satu peneliti, Prof Richard Houlston.
Lantas mengapa keduanya dapat memperbesar risiko kanker payudara? Menurut Prof Houlston, di satu sisi mutasi gen BRCA itu sendiri berakibat pada berhentinya proses perbaikan diri yang biasa dilakukan DNA. Di sisi lain ketika merokok, ada banyak DNA dalam tubuh yang mengalami kerusakan. Oleh karena itu wajar jika kemudian risiko kankernya makin menjadi-jadi.
Namun hasil studi yang sama juga menunjukkan itu artinya pengobatan untuk kanker payudara bisa saja efektif bila diberlakukan pada sejumlah kasus kanker paru.
"(Kendati begitu) dengan ada tidaknya kerugian genetik tadi, setidaknya ada satu cara yang paling efektif untuk mengurangi risiko kanker paru, yaitu berhenti menjadi perokok," tutupnya seperti dikutip dari BBC, Rabu (4/6/2014).











































