Berisiko Pikun atau Tidak, Begini Ragam Cara Mendeteksinya

Berisiko Pikun atau Tidak, Begini Ragam Cara Mendeteksinya

- detikHealth
Kamis, 05 Jun 2014 08:24 WIB
Berisiko Pikun atau Tidak, Begini Ragam Cara Mendeteksinya
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - Harusnya kepikunan akibat penyakit Alzheimer baru bisa terjadi ketika seseorang memasuki usia senja. Akan tetapi ternyata bakat pikun pun sudah bisa terdeteksi beberapa tahun sebelumnya. Lantas dengan apa kita bisa mengetahuinya?

Sebenarnya Alzheimer hanya bisa diketahui dengan scan otak, namun seiring dengan kemajuan teknologi medis, makin banyak cara yang memudahkan dokter untuk mendeteksi risiko pikun seseorang. Berikut pemaparannya, seperti halnya dirangkum detikHealth, Kamis (5/6/2014).

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)

1. Tes darah

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Tes darah dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi apapun, mulai dari kecocokan DNA hingga risiko penyakit tertentu. Tak terkecuali risiko Alzheimer, yang memicu terjadinya kepikunan.

Targetnya adalah tingkat kandungan protein dalam darah yang disebut 'clusterin'. Makin tinggi kadar clusterin dalam darah si pasien, maka risiko si pasien untuk mengalami gejala Alzheimer seperti daya ingat menghilang lebih cepat dan otak menyusut juga makin tinggi.

Tes ini diklaim tim peneliti dari Institute of Psychiatry, King's College, London dapat mengetahui risiko Alzheimer seseorang hingga 10 tahun lebih cepat.

1. Tes darah

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Tes darah dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi apapun, mulai dari kecocokan DNA hingga risiko penyakit tertentu. Tak terkecuali risiko Alzheimer, yang memicu terjadinya kepikunan.

Targetnya adalah tingkat kandungan protein dalam darah yang disebut 'clusterin'. Makin tinggi kadar clusterin dalam darah si pasien, maka risiko si pasien untuk mengalami gejala Alzheimer seperti daya ingat menghilang lebih cepat dan otak menyusut juga makin tinggi.

Tes ini diklaim tim peneliti dari Institute of Psychiatry, King's College, London dapat mengetahui risiko Alzheimer seseorang hingga 10 tahun lebih cepat.

2. Pemeriksaan mata

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Lagi-lagi dari Inggris, tim peneliti asal University College London mempelopori tes deteksi pikun melalui mata. Yang diamati adalah sel di bagian belakang retina mata, karena bagian sel itu terhubung langsung ke otak. Semakin banyak sel-sel yang rusak dan mati, artinya semakin banyak pula sel-sel otak yang mati. Dan itu artinya semakin tinggi risiko terkena penyakit pikun atau alzheimer.

Tes ini diklaim bisa mendiagnosis risiko Alzheimer seseorang 20 tahun sebelum penyakit itu menyerang. Selain itu mengurangi biaya karena jauh lebih murah daripada tes memori dan scan otak.

2. Pemeriksaan mata

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Lagi-lagi dari Inggris, tim peneliti asal University College London mempelopori tes deteksi pikun melalui mata. Yang diamati adalah sel di bagian belakang retina mata, karena bagian sel itu terhubung langsung ke otak. Semakin banyak sel-sel yang rusak dan mati, artinya semakin banyak pula sel-sel otak yang mati. Dan itu artinya semakin tinggi risiko terkena penyakit pikun atau alzheimer.

Tes ini diklaim bisa mendiagnosis risiko Alzheimer seseorang 20 tahun sebelum penyakit itu menyerang. Selain itu mengurangi biaya karena jauh lebih murah daripada tes memori dan scan otak.

3. Tes urine

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Pemeriksaan urine ternyata juga bisa mengungkap risiko penurunan fungsi otak, terutama pada pengidap diabetes tipe 2. Menurut tim peneliti dari Kaiser Permanente of Georgia and the Emory yang melakukan penelitian ini, ada protein dalam protein bernama albuminaria yang dapat dipakai untuk mendeteksi terjadinya penurunan fungsi otak yang berlangsung lebih dini.

Makin tinggi kadar albuminaria dalam urine-nya, maka orang yang bersangkutan berisiko lebih besar untuk mengalami penurunan fungsi otak.

"Kami cuma menemukan perubahan kecil pada kemampuan kognisinya. Namun bila (perubahan ini) berlanjut selama 10-15 tahun, ini bisa menjadi penurunan fungsi kognitif yang kelihatan pada usia 75-80 tahun," kata peneliti, Dr Joshua Barzilay.

3. Tes urine

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Pemeriksaan urine ternyata juga bisa mengungkap risiko penurunan fungsi otak, terutama pada pengidap diabetes tipe 2. Menurut tim peneliti dari Kaiser Permanente of Georgia and the Emory yang melakukan penelitian ini, ada protein dalam protein bernama albuminaria yang dapat dipakai untuk mendeteksi terjadinya penurunan fungsi otak yang berlangsung lebih dini.

Makin tinggi kadar albuminaria dalam urine-nya, maka orang yang bersangkutan berisiko lebih besar untuk mengalami penurunan fungsi otak.

"Kami cuma menemukan perubahan kecil pada kemampuan kognisinya. Namun bila (perubahan ini) berlanjut selama 10-15 tahun, ini bisa menjadi penurunan fungsi kognitif yang kelihatan pada usia 75-80 tahun," kata peneliti, Dr Joshua Barzilay.

4. Video game

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Raksasa farmasi Pfizer dan pembuat video game Akili Interactive Labs baru-baru ini mengembangkan perangkat deteksi dini Alzheimer berbentuk video game. Bentuknya adalah permainan mengemudi.

Saat memainkan game, pemain harus konsentrasi menyetir sembari menembaki rambu-rambu yang ditemui. Game tersebut dirancang agar pemainnya mampu merencanakan, membuat keputusan, juga menangani distraksi yang menghadang di hadapannya.

Bila pasien berhasil memainkan game ini atau tak menemui kesulitan, itu bisa berarti risiko Alzheimer orang yang bersangkutan tergolong rendah. Begitu juga sebaliknya.

4. Video game

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Raksasa farmasi Pfizer dan pembuat video game Akili Interactive Labs baru-baru ini mengembangkan perangkat deteksi dini Alzheimer berbentuk video game. Bentuknya adalah permainan mengemudi.

Saat memainkan game, pemain harus konsentrasi menyetir sembari menembaki rambu-rambu yang ditemui. Game tersebut dirancang agar pemainnya mampu merencanakan, membuat keputusan, juga menangani distraksi yang menghadang di hadapannya.

Bila pasien berhasil memainkan game ini atau tak menemui kesulitan, itu bisa berarti risiko Alzheimer orang yang bersangkutan tergolong rendah. Begitu juga sebaliknya.

5. Metabolisme dalam otak

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Ilmuwan berhasil mengungkap metabolisme energi dalam otak yang disebut 'glikolisis aerobik' ternyata dapat dipakai untuk memprediksi gejala Alzheimer sejak ini. Hal ini karena proses metabolisme tersebut berkaitan dengan pembentukan plak amiloid yang menyebabkan munculnya gejala Alzheimer.

Cara ini diklaim dapat memprediksi risiko pikun seseorang sejak usianya masih 25 tahun, karena proses peningkatan aktivitas glikosis tadi sudah terjadi sejak seseorang berusia 25 tahun. Bila makin aktif, itu tandanya risiko Alzheimernya juga makin besar.

5. Metabolisme dalam otak

Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Ilmuwan berhasil mengungkap metabolisme energi dalam otak yang disebut 'glikolisis aerobik' ternyata dapat dipakai untuk memprediksi gejala Alzheimer sejak ini. Hal ini karena proses metabolisme tersebut berkaitan dengan pembentukan plak amiloid yang menyebabkan munculnya gejala Alzheimer.

Cara ini diklaim dapat memprediksi risiko pikun seseorang sejak usianya masih 25 tahun, karena proses peningkatan aktivitas glikosis tadi sudah terjadi sejak seseorang berusia 25 tahun. Bila makin aktif, itu tandanya risiko Alzheimernya juga makin besar.
Halaman 2 dari 12
Tes darah dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi apapun, mulai dari kecocokan DNA hingga risiko penyakit tertentu. Tak terkecuali risiko Alzheimer, yang memicu terjadinya kepikunan.

Targetnya adalah tingkat kandungan protein dalam darah yang disebut 'clusterin'. Makin tinggi kadar clusterin dalam darah si pasien, maka risiko si pasien untuk mengalami gejala Alzheimer seperti daya ingat menghilang lebih cepat dan otak menyusut juga makin tinggi.

Tes ini diklaim tim peneliti dari Institute of Psychiatry, King's College, London dapat mengetahui risiko Alzheimer seseorang hingga 10 tahun lebih cepat.

Tes darah dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi apapun, mulai dari kecocokan DNA hingga risiko penyakit tertentu. Tak terkecuali risiko Alzheimer, yang memicu terjadinya kepikunan.

Targetnya adalah tingkat kandungan protein dalam darah yang disebut 'clusterin'. Makin tinggi kadar clusterin dalam darah si pasien, maka risiko si pasien untuk mengalami gejala Alzheimer seperti daya ingat menghilang lebih cepat dan otak menyusut juga makin tinggi.

Tes ini diklaim tim peneliti dari Institute of Psychiatry, King's College, London dapat mengetahui risiko Alzheimer seseorang hingga 10 tahun lebih cepat.

Lagi-lagi dari Inggris, tim peneliti asal University College London mempelopori tes deteksi pikun melalui mata. Yang diamati adalah sel di bagian belakang retina mata, karena bagian sel itu terhubung langsung ke otak. Semakin banyak sel-sel yang rusak dan mati, artinya semakin banyak pula sel-sel otak yang mati. Dan itu artinya semakin tinggi risiko terkena penyakit pikun atau alzheimer.

Tes ini diklaim bisa mendiagnosis risiko Alzheimer seseorang 20 tahun sebelum penyakit itu menyerang. Selain itu mengurangi biaya karena jauh lebih murah daripada tes memori dan scan otak.

Lagi-lagi dari Inggris, tim peneliti asal University College London mempelopori tes deteksi pikun melalui mata. Yang diamati adalah sel di bagian belakang retina mata, karena bagian sel itu terhubung langsung ke otak. Semakin banyak sel-sel yang rusak dan mati, artinya semakin banyak pula sel-sel otak yang mati. Dan itu artinya semakin tinggi risiko terkena penyakit pikun atau alzheimer.

Tes ini diklaim bisa mendiagnosis risiko Alzheimer seseorang 20 tahun sebelum penyakit itu menyerang. Selain itu mengurangi biaya karena jauh lebih murah daripada tes memori dan scan otak.

Pemeriksaan urine ternyata juga bisa mengungkap risiko penurunan fungsi otak, terutama pada pengidap diabetes tipe 2. Menurut tim peneliti dari Kaiser Permanente of Georgia and the Emory yang melakukan penelitian ini, ada protein dalam protein bernama albuminaria yang dapat dipakai untuk mendeteksi terjadinya penurunan fungsi otak yang berlangsung lebih dini.

Makin tinggi kadar albuminaria dalam urine-nya, maka orang yang bersangkutan berisiko lebih besar untuk mengalami penurunan fungsi otak.

"Kami cuma menemukan perubahan kecil pada kemampuan kognisinya. Namun bila (perubahan ini) berlanjut selama 10-15 tahun, ini bisa menjadi penurunan fungsi kognitif yang kelihatan pada usia 75-80 tahun," kata peneliti, Dr Joshua Barzilay.

Pemeriksaan urine ternyata juga bisa mengungkap risiko penurunan fungsi otak, terutama pada pengidap diabetes tipe 2. Menurut tim peneliti dari Kaiser Permanente of Georgia and the Emory yang melakukan penelitian ini, ada protein dalam protein bernama albuminaria yang dapat dipakai untuk mendeteksi terjadinya penurunan fungsi otak yang berlangsung lebih dini.

Makin tinggi kadar albuminaria dalam urine-nya, maka orang yang bersangkutan berisiko lebih besar untuk mengalami penurunan fungsi otak.

"Kami cuma menemukan perubahan kecil pada kemampuan kognisinya. Namun bila (perubahan ini) berlanjut selama 10-15 tahun, ini bisa menjadi penurunan fungsi kognitif yang kelihatan pada usia 75-80 tahun," kata peneliti, Dr Joshua Barzilay.

Raksasa farmasi Pfizer dan pembuat video game Akili Interactive Labs baru-baru ini mengembangkan perangkat deteksi dini Alzheimer berbentuk video game. Bentuknya adalah permainan mengemudi.

Saat memainkan game, pemain harus konsentrasi menyetir sembari menembaki rambu-rambu yang ditemui. Game tersebut dirancang agar pemainnya mampu merencanakan, membuat keputusan, juga menangani distraksi yang menghadang di hadapannya.

Bila pasien berhasil memainkan game ini atau tak menemui kesulitan, itu bisa berarti risiko Alzheimer orang yang bersangkutan tergolong rendah. Begitu juga sebaliknya.

Raksasa farmasi Pfizer dan pembuat video game Akili Interactive Labs baru-baru ini mengembangkan perangkat deteksi dini Alzheimer berbentuk video game. Bentuknya adalah permainan mengemudi.

Saat memainkan game, pemain harus konsentrasi menyetir sembari menembaki rambu-rambu yang ditemui. Game tersebut dirancang agar pemainnya mampu merencanakan, membuat keputusan, juga menangani distraksi yang menghadang di hadapannya.

Bila pasien berhasil memainkan game ini atau tak menemui kesulitan, itu bisa berarti risiko Alzheimer orang yang bersangkutan tergolong rendah. Begitu juga sebaliknya.

Ilmuwan berhasil mengungkap metabolisme energi dalam otak yang disebut 'glikolisis aerobik' ternyata dapat dipakai untuk memprediksi gejala Alzheimer sejak ini. Hal ini karena proses metabolisme tersebut berkaitan dengan pembentukan plak amiloid yang menyebabkan munculnya gejala Alzheimer.

Cara ini diklaim dapat memprediksi risiko pikun seseorang sejak usianya masih 25 tahun, karena proses peningkatan aktivitas glikosis tadi sudah terjadi sejak seseorang berusia 25 tahun. Bila makin aktif, itu tandanya risiko Alzheimernya juga makin besar.

Ilmuwan berhasil mengungkap metabolisme energi dalam otak yang disebut 'glikolisis aerobik' ternyata dapat dipakai untuk memprediksi gejala Alzheimer sejak ini. Hal ini karena proses metabolisme tersebut berkaitan dengan pembentukan plak amiloid yang menyebabkan munculnya gejala Alzheimer.

Cara ini diklaim dapat memprediksi risiko pikun seseorang sejak usianya masih 25 tahun, karena proses peningkatan aktivitas glikosis tadi sudah terjadi sejak seseorang berusia 25 tahun. Bila makin aktif, itu tandanya risiko Alzheimernya juga makin besar.

(iva/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads