Studi yang dilakukan selama 4 tahun dengan melibatkan 10.200 pasien di University Hospitals of the Ruhr University of Bochum, Jerman, memang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara tingkat nyeri pada pria dan wanita pasca operasi.
Namun, ketika peneliti membagi jenis operasi menjadi dua, yaitu operasi besar dan operasi kecil (seperti biopsi), baru kemudian muncul adanya perbedaan pola. Pasien pria ditemukan merasa lebih nyeri setelah dilakukan operasi besar, sementara pasien wanita lebih banyak melaporkan rasa nyeri setelah dilakukan operasi kecil.
Dr Andreas Sandner-Kiesling dari Medical University of Graz, Austria, mengatakan bahwa masalah gender memang masih banyak dikembangkan dalam isu pengobatan.
"Berdasarkan temuan kami, diduga jenis dan tingkat keparahan operasi memainkan peran penting, seperti wanita yang lebih mengekspresikan rasa nyeri pasca prosedur minor, sementara pria lebih dipengaruhi pasca operasi besar," ungkapnya.
Sementara itu, Dr Beverly Collette, seorang konsultan anestesi dan manajemen nyeri University Hospital of Leicester NHS Trust, mengungkapkan bahwa studi ini memang masih bersifat fleksibel. Artinya, hal-hal lain seperti hormon, usia, jenis operasi dan bagian tubuh yang dioperasi turut memberikan pengaruh terhadap rasa nyeri pasca operasi itu sendiri.
"Aspek psikologis untuk menahan rasa nyeri pada pria juga berbeda-beda. Mereka dikenal lebih berusaha untuk menahan nyeri ketika diobati oleh perawat dengan jenis kelamin wanita, dibandingkan perawat pria," ujar Dr Collette, seperti dikutip dari BBC, Senin (9/6/2014).
Meskipun demikian, hal ini juga sangat mungkin muncul akibat adanya perbedaan respons wanita dan pria terhadap analgesik. Setidaknya itulah yang diungkapkan oleh Dr Edmund Keogh, seorang peneliti nyeri di University of Bath. "Kita perlu memiliki banyak penelitian lebih lanjut," tegasnya.
(ajg/up)











































