Salah satu modifikasi dilakukan tim peneliti asal Imperial College London. Mereka menciptakan sekumpulan nyamuk yang hanya dapat menghasilkan anakan pejantan atau setidaknya sebesar 95 persen.
Jadi tim yang dikepalai Prof Andrea Crisanti dan Dr Nikolai Windbichler tersebut berupaya mentransfer sebuah gen ke dalam nyamuk pembawa virus malaria di Afrika yaitu jenis Anopheles gambiae. Gen ini menghasilkan sebuah enzim yang disebut 'endonuclease' dan dapat memotong DNA ketika ia mengenali atau menemukan rangkaian genetik tertentu.
"Dan kebetulan tim kami dapat memodifikasi agar endonuclease ini dapat menyerang rangkaian DNA tertentu dengan sendirinya, terutama kromosom X dari si nyamuk," tandas Prof Crisanti seperti dikutip dari BBC, Rabu (11/6/2014).
Pada nyamuk hasil modifikasi genetik ini nantinya, endonuclease yang ada di tubuhnya bisa menyala sendiri dan menyerang kromosom X ketika terjadi pembentukan sperma. Hasilnya, Anopheles gambiae jantan takkan pernah menghasilkan sperma yang mengandung kromosom X atau cikal-bakal anakan betina. Dan 95 persen keturunan mereka adalah pejantan.
Peneliti pun telah melakukan tindakan uji coba untuk mengetahui efektivitas teknologi ini. Mereka menyediakan lima kandang yang awalnya berisi 50 nyamuk jantan dan 50 nyamuk betina. Akan tetapi setelah peneliti 'memperkenalkan' 150 nyamuk jantan yang telah dimodifikasi, jumlah nyamuk betina yang dihasilkan menurun drastis hingga empat generasi.
Bahkan setelah berkembang biak berulang kali, populasi nyamuk yang ada di empat kandang mati secara keseluruhan.
"Efek ini bermanfaat bagi manusia karena hanya nyamuk betina yang menggigit dan menyebarkan virus malaria. Sehingga penurunan jumlah nyamuk betina akan memperlambat persebaran malaria," kata Prof Crisanti.
Namun sebelum nyamuk-nyamuk modifikasi ini siap disebar di alam bebas, peneliti mengaku masih butuh beberapa tahun agar target ini dapat terealisasi.
Sementara ini peneliti baru saja mulai melakukan prosedur pengecekan keamanan dan efektivitas strain nyamuk baru yang telah mengalami modifikasi genetik dalam skala besar. Fasilitas pengujian ini mereka bangun di Italia.
"Kami punya kandang yang besar di mana kami dapat membuat lingkungan tropis seperti aslinya dan disini kami bisa menguji kebenaran sejumlah hipotesis atau dugaan dalam skala yang sangat besar," tutupnya.
(lil/up)











































