Usai Berenang, Waspadai Secondary Drowning yang Bisa Sebabkan Kematian

Usai Berenang, Waspadai Secondary Drowning yang Bisa Sebabkan Kematian

- detikHealth
Jumat, 13 Jun 2014 14:01 WIB
Usai Berenang, Waspadai Secondary Drowning yang Bisa Sebabkan Kematian
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Kansas -

Di kolam renang, saat tak berada dalam pengawasan orang dewasa, anak-anak memang rentan tenggelam. Jika peristiwa itu terjadi, biasanya orang tua kembali lega setelah buah hatinya bisa diselamatkan saat tenggelam. Namun, nyatanya tidak seperti itu.

Seorang ibu bernama Lindsay Kujawa pernah mengalami kejadian di mana putranya yang bernama Ronin tenggelam dan ia berhasil diselamatkan. Namun, di malam hari, kadar oksigen dalam tubuh Ronin menurun drastis hingga ia harus dilarikan ke RS.

Dokter mengatakan Ronin mengalami efek tenggelam yang kerap disebut secondary drowning. Kondisi ini bisa terjadi beberapa jam setelah perenang meninggalkan kolam renang. Pakar keamanan air dan presiden Aquatic Consulting Services, Alison Osinski mengatakan kejadian tenggelam di kolam renang tak terjadi begitu saja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Data The Centers for Disease Control and Prevention and the Consumer Product Safety Commission menunjukkan dari peristiwa tenggelamnya anak-anak di sekitar 400 kolam renang dan spa, korbannya adalah anak di bawah usia 15 tahun. Bahkan, 75% adalah anak di bawah usia 5 tahun. Saat mengalami secondary drowning, perenang bisa menghirup air akibat tenggelam atau mencebur ke air mendadak seperti saat perenang melompat dari permukaan yang tinggi atau keluar dari slide air.

"Hal itu hanya terjadi dalam hitungan detik karena air bisa melewati pita suara sebelum tubuh memiliki waktu untuk bereaksi," kata dr Sarah Hoehn, spesialis anak di ICU University of Kansas Hospital seperti dikutip dari CNN, Jumat (13/6/2014).

Juru bicara American College of Emergency Physicians, dr Juan Fitz mengatakan perenang terlihat dalam kondisi baik-baik saja setelah mengalami secondary drowning. Namun, seiring waktu air yang tersisa di paru-paru bisa menyebabkan endema atau pembengkakan. Nah, ketika Alveoli paru-paru terisi air, maka tidak bisa terjadi pertukaran oksigen dari dan ke darah.

"Akibatnya jantung bisa memperlambat pertukaran oksigen. Selain itu, menghirup air kolam juga bisa menyebabkan pneumonitis kimia atau radang paru-paru karena bahan kimia berbahaya," tutut dr Fitz.

Gejala secondary drowning muncul 1-24 jam setelah kejadian. Seseorang bisa batuk terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, lesu, demam, dan mengalami perubahan suasana hati. Jika pembengkakan didiagnosa di awal, dokter bisa mengatur kadar oksiden dan mencoba mengeluarkan cairan dari paru-paru dengan diuretik atau tekanan udara positif.

"Jika tidak diobati akan terjadi komplikasi berupa perkembangan edema paru yang ditandai keluarnya cairan berbusa pink dari hidung dan mulut korban, hipoksia, gangguan pernapasan dan serangan jantung, bahkan kematian," kata Osinski.

(rdn/up)

Berita Terkait