Dikatakan Drajat Alamsyah selaku Head of Domestic Sales Bio Farma, produsen vaksin dan sera di Indonesia, proses distribusi vaksin di Biofarma menggunakan cold chain system yakni proses penanganan vaksin mencakup proses penyimpanan, pengemasan, pengiriman, dan alat yang digunakan.
"Proses ini berguna untuk menjaga kualitas vaksin selama penanganan sampai tiba di tangan konsumen agar kerja vaksin untuk kekebalan tubuh tidak berkurang," tutur pria yang akrab disapa Alam ini dalam media workshop and gathering di kantor Biofarma, Jl Pasteur, Bandung, Jawa Barat, dan ditulis Minggu (15/6/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama pengiriman ada pemantau suhu yaitu freeze tag atau fridge tag. Konsumen juga bisa memastikan kualitas vaksin dengan melihat Vaccine Vial Monitor (VVM) yang ada di kemasan," imbuh Alam.
VVM merupakan label berwarna putih yang akan berubah menjadi abu-abu secara perlahan untuk menunjukkan sejauh mana vaksin terpapar panas. Alam mengatakan kelebihan VVM yakni jika vaksin berada di suhu lebih tinggi dari batas, lalu ingin disimpan kembali di suhu yang seharusnya VVM tidak akan kembali seperti semula.
"Jika vaksin terpapar suhu yang terlalu tinggi VVM-nya akan berubah makin gelap, dianjurkan untuk tidak digunakan meskipun waktu kadaluarsanya masih lama," ucap Alam.
Setelah dikemas, sinar matahari dan tingkat kelembaban juga patut diperhatikan saat vaksin didistribusikan. Diusahakan vaksin tidak terkena sinar matahari langsung misalnya vaksin BCG. Sebab, ada vaksin seperti yang sangat sensitif terhadap panas sehingga harus berada si suhu beku, misalnya vaksin polio.
Ada pula vaksin yang harus berada di suhu dingin tetapi tidak beku karena sensitif terhadap beku seperti vaksin TT, DT, hepatitis B, dan serum. Di Biofarma sendiri, vaksin disimpan dengan monitor 24 jam. Jika suhu penyimpanannya melebihi atau kurang dari ambang batas akan ada alarm.
Untuk menjalankan proses distribusi pun tak sembarang angkutan yang digunakan. Ada beberapa syarat sepeti personil pengirim memiliki pengalaman untuk menangani produk rush handling, memiliki pendingin, dan si petugas harus mendapat training penanganan vaksin.
"Misal saat dikirim vaksin harus transit lebih dari 48 jam apa yang harus dilakukan terhadap vaksin itu petugasnya harus tahu. Biasanya ada dua kemungkinan, dikembalikan ke pihak produsen, ke kami (biofarma) atau di repack," tutur Alam.
(rdn/up)











































