MERS CoV Atau MERS adalah jenis virus baru mematikan yang menyerang sistem pernapasan. Virus tersebut pertama kali muncul di negara-negara Timur Tengah dan kini menyebar hingga ke Eropa. Karena sifatnya yang masih baru, belum ditemukan vaksin yang efektif dapat mencegah penyebaran virus.
Mengingat Indonesia adalah negara yang masyarakatnya rutin mengunjungi negara timur tengah, Sekretaris Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Mohammad Subuh, Memimpin acara simulasi siaga MERS CoV di Bandara Soekarno Hatta, Banten, pada Rabu (18/6/2014).
Simulasi tersebut bertujuan untuk menunjukkan kesiapan petugas Bandara Soekarno-Hatta dalam menangani kasus kecurigaan infeksi virus MERS pada penumpang pesawat.
Awal simulasi dilakukan mulai dari pilot yang memberitahu petugas traffic control bandara soal kecurigaan akan adanya infeksi MERS pada pesawat. Di darat, setelah menerima panggilan tersebut tim penanggulangan penyakit infeksi bandara dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) segera mendirikan tenda isolasi.
Penumpang yang dicurigai positif MERS segara dievakuasi ke tenda isolasi oleh tim berpakaian khusus untuk pemeriksaan lebih lanjut mengonfirmasi kecurigaan. Setelah terkonfirmasi positif MERS, pasien akan segera dirujuk ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Suroso, Sunter, Jakarta.
Jika tidak ada kecurigaan akan adanya infeksi, pesawat kedatangan dari negara yang diketahui terinfeksi MERS akan mendarat di tepat khusus yang telah disediakan. Setelah mendarat, penumpang turun melalui alat thermal scanner yang dapat mendeteksi suhu tubuh. Penumpang dengan suhu tubuh lebih dari 38 derajat celcius akan diperiksa lebih jauh untuk gejala MERS sementara penumpang lainnya dapat melanjutkan perjalanan.
Prosedur yang dilakukan oleh KKP Bandara Soekarno Hatta tersebut dilakukan dalam rangka pencegahan masuknya virus ke Indonesia. Di Indonesia sendiri belum ada kasus infeksi MERS yang telah terbukti.
"Meskipun belum ada peringatan dari WHO (World Health Organization), setahun saja ada sekitar 800 ribu warga yang pergi umrah dan sekitar 200 ribu warga yang pergi haji. Total setahun bisa sampai sekitar satu jutaan warga kita yang berisiko terpapar virus. Kira harus siap terhadap risikonya," ujar Subuh saat ditemui detikHealth pada acara simulasi tersebut.
(ajg/up)










































