Menurut dr Anky Tri Rini K.E, Spa(K), dari RS Omni Pulomas, efek samping yang dapat muncul di antaranya penurunan atau peningkatan berat badan, perubahan perilaku, rontoknya rambut, dan perubahan indra perasa.
dr Anky menjelaskan bahwa perubahan khususnya pada indra perasa disebabkan rusaknya epitel papil lidah atau organ perasa pada lidah. Sebab pengobatan kemoterapi untuk kanker tidak hanya menyerang sel kanker, terkadang sel sehat pada tubuh pun ikut terserang.
"Papil-papil lidah terbagi beberapa bagian yang sensitif terhadap rasa tertentu. Ada rasa manis, asam, asin dan pahit. Biasanya efek samping dari kemoterapi ini ambang batas pahit di lidah menjadi rendah sehingga pasien akan sangat sensitif terhadap rasa pahit. Sebaliknya, ambang rasa manis jadi tinggi sehingga pasien butuh rasa manis yang lebih agar terasa," ujar dr Anky, ditemui pada seminar rutin bulanan di Yayasan Anyo Indonesia, Jakarta, Senin (23/6/2014).
Lebih jauh dr Anky memaparkan akibat perubahan indra perasa atau disgeusia tersebut beberapa makanan dapat terasa hambar atau bahkan muncul sensasi rasa seperti logam, berbeda-beda pada tiap individu. Pada beberapa pasien khususnya anak, hal tersebut dapat menyebabkan ketidaksukaan terhadap beberapa makanan, hilangnya nafsu makan dan pada akhirnya penurunan berat badan.
"Anak habis kemoterapi makan daging rasanya bisa berubah jadi rasa seperti makan logam atau obat. Jadi jangan paksa anak untuk makan masakan kita," kata dr Anky.
Kehilangan nafsu makan dapat berlangsung selama beberapa hari, minggu, bulan atau bahkan tahunan tergantung dari seberapa lama pengobatan yang dijalani pasien.
Salah satu cara yang dianjurkan oleh dr Anky adalah dengan mengganti sumber protein lain seperti telur, ikan, kacang-kacangan dan produk susu. Selain itu hindari memasak dengan peralatan berbahan logam untuk mengurangi sensitifitas rasa logam pada anak.
Menurut dr Anky ada banyak cara yang dapat dilakukan, yang terpenting adalah bagaimana orang tua dapat memenuhi kebutuhan gizi anak. "Jangan sampai kebutuhan makanan pada pasien kanker jadi berkurang, mereka butuh energi yang cukup untuk pengobatan kankernya dan kebutuhan tubuhnya sendiri," tutup dr Anky.
(up/up)











































