Cek Risiko Kanker Payudara dengan Skrining BRCA, Apa Itu?

Cek Risiko Kanker Payudara dengan Skrining BRCA, Apa Itu?

- detikHealth
Selasa, 24 Jun 2014 16:02 WIB
Cek Risiko Kanker Payudara dengan Skrining BRCA, Apa Itu?
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Kanker payudara merupakan salah satu penyakit mematikan bagi wanita Indonesia. Jika biasanya deteksi dini bisa dilakukan melalui SADARI dan mammografi. Maka untuk preventif, evaluasi risikonya bisa diketahui melalui skrining BRCA-1 dan BRCA-2.

"Penyakit kanker itu terjadinya bertahap, tidak sehari semalam. Kalau deteksi dini biasanya mencari perubahan terkecil yang alat diagnostik bisa lihat, maka risiko diamati pada pasien yang sama sekali tidak ada keluhan dan sehat," ungkap Ahmad R. Utomo, PhD, peneliti Stem Cell & Cancer Institute (SCI), dalam diskusi media yang diselenggarakan di Restoran Tesate, Jl Sam Ratulangi, Jakarta, (Selasa 24/6/2014).

Dilanjutkan oleh Ahmad, gen BRCA selama masih normal dan belum termutasi bertanggung jawab untuk memperbaiki radikal bebas yang diklaim bisa merusak DNA dan menimbulkan kanker. Nah, ketika terjadi mutasi dari paparan radiasi, asap rokok serta polusi yang kemudian membuat DNA termutasi, maka kapasitasnya menurun separuh.

"Artinya ia akan menjadi lebih mudah terkena serangan kanker payudara," lanjutnya.

Dengan melakukan skrining BRCA, seseorang bisa mengetahui apakah gen BRCA yang dimilikinya telah mengalami mutasi atau tidak. Memakan waktu sekitar sebulan lebih, hasil tesnya nanti pun bisa dipergunakan jika kelak anaknya ingin skrining BRCA dan mengetahui apakah memiliki risiko mutasi gen.

"Karena perubahan genetik itu dampaknya generatif dan pelan-pelan berubah, tes BRCA bisa dibilang lebih spesifik," terang Ahmad.

Sementara itu menurut Dr dr Samuel J. Haryono, SpB (KBT), pemeriksaan ini tak dilakukan secara individu disiplin, tapi juga melibatkan ginekolog, psikolog, ahli bedah dan ahli genetik. "Akan didiskusikan untuk menyampaikan hasil, tak sembarangan. Dibuat rekomendasi juga apa kemudian yang harus dilakukan pasien untuk menurunkan risikonya," terang dokter spesialis bedah RS Medistra ini.

Untuk efisiensi waktu pemeriksaan, skrining dilakukan bekerja sama dengan NHS, London. Memerlukan biaya sekitar Rp 17 juta, beberapa rumah sakit seperti MRCCC Siloam Hospital Semanggi, RS Dharmais dan RS Medistra sudah menyediakan pelayanan ini.

(ajg/up)

Berita Terkait