Komplikasi Cacar Ular: Nyeri Berkepanjangan Sampai Buta dan Tuli

Komplikasi Cacar Ular: Nyeri Berkepanjangan Sampai Buta dan Tuli

- detikHealth
Selasa, 24 Jun 2014 18:31 WIB
Komplikasi Cacar Ular: Nyeri Berkepanjangan Sampai Buta dan Tuli
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Setelah seseorang didiagnosa herpes zoster atau cacar ular, akan dilakukan penatalaksanaan berupa pemberian obat antivirus. Ketika ruam hilang tetapi masih ada rasa nyeri, bisa jadi pasien mengalami Post-Herpetic Neuralgia (PHN).

"PHN bisa terjadi pada lebih dari 50% pasien berusia di atas 60 tahun dan meningkat 27 kali lipat pada usia 50 tahun ke atas. Biasanya nyeri bisa terjadi menetap sampai tiga bulan bahkan bertahun-tahun," jelas dr Hanny Nilasari SpKK(K).

Dikatakan dr Hanny, meski mendapat terapi antivirus, HPN bisa terjadi pada 10-20 persen pasien cacar ular. Kondisi ini juga memengaruhi kualitas hidup pasien karena rasa nyeri berkepanjangan yang dirasakan bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

"Selama pasien merasakan nyeri pasca herpes ini, kita beri obat antinyeri. Meski sudah diberi dosis optimal, 40 persen pasien mengaku masih merasakan nyeri. Maka dari itu penting memberi edukasi bahwa setelah kena cacar ular bisa terasa nyeri tetap," tutur dr Hanny.

Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam Seminar media '1 dari 3 Orang Berisiko Mengalami Herpes Zoster, Vaksin Pencegahan Diluncurkan' di Bunga Rampai Resto, Jl Teuku Cik Ditiro, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (24/6/2014).

Selain menimbulkan rasa nyeri menetap dalam kurun waktu bervariasi, cacar ular juga bisa menyebabkan komplikasi di sistem saraf sehingga bisa mengakibatkan vertigo, kelumpuhan syaraf otak, tuli, dan infeksi di selaput otak. Jika tak segera diatasi, pada kulit juga bisa terjadi berupa infeksi sekunder.

"Komplikasi pada mata 50-72% bisa menyebabkan gangguan mata kronis dan kebutaan. Pada telinga, bisa terjadi Ramsay Hunt Syndrome yaitu kelainan kulit sampai telinga di bagian dalam hingga timbul nyeri, vertigo, hilang pendengaran, berdenging, dan sensitifitas suara bertambah," jelas dr Hanny.

(rdn/up)

Berita Terkait