Hepatitis B dan C misalnya. Menurut data Riskesdas 2007, prevalensi Hepatitis B sebesar 9,4 persen dan Hepatitis C 2,1 persen.
"Masalah Hepatitis virus tidak bisa kita lepaskan dari masalah HIV dan AIDS, mengingat Indonesia merupakan negara dengan epidemik HIV yang terkonsentrasi pada populasi berisiko," ujar Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, PhD dalam sambutannya pada acara Pertemuan Konsultasi Nasional Pengendalian Hepatitis Indonesia di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng Selatan no 1, Jakarta Pusat, seperti ditulis Jumat (27/6/2014).
Virus Hepatitis sendiri memiliki 5 bentuk, yaitu Hepatitis A, B, C, D, dan E. Hepatitis A dan E dapat dicegah melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PBHS), akses air bersih dan kesehatan lingkungan serta pengelolaan makanan yang baik dan benar.
Sedangkan untuk Hepatitis B dapat dicegah dengan pemberian imunisasi pada bayi. Sayangnya, belum ditemukan vaksinasi untuk Hepatitis C.
"Hepatitis adalah penyakit yang dapat dicegah dan diobati", ujar Wamenkes.
Lalu upaya apa saja yang dapat kita lakukan untuk menghindari virus Hepatitis?
Ada 6 upaya pengendalian virus Hepatitis yang telah dilaksanakan, yaitu:
1. Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PBHS).
2. Penapisan darah donor oleh unit transfusi darah PMI.
3. Deteksi dini Hepatitis B pada ibu hamil.
4. Deteksi dini Hepatitis B pada tenaga kesehatan.
5. Pengembangan Surveilans Hepatitis B dan C bagi kelompok masyarakat berisiko tertular dan menularkan, yaitu pengguna narkoba sunti (Penasun), lelaki yang melakukan seks dengan lelaki (LSL), Waria dan wanita penjaja seks (WPS).
6. Pengembangan program Perawatan Dukungan Pengobatan (PDP) Hepatitis B dan C.
(up/up)











































