Penyakit pernapasan yang disebabkan oleh Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) yang baru-baru ini menyerang negara timur tengah dilaporkan oleh World Health Organization (WHO) mengalami lonjakan jumlah kasus.
Lebih dari 100 kasus baru dan 34 meninggal menambah catatan korban infeksi dari virus yang baru terdeteksi muncul pada Juni 2012. Dari awal teridentifikasinya virus hingga hari Kamis (26/6/2014), WHO mengatakan tercatat sudah ada 820 kasus infeksi MERS dan 286 korban meninggal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun WHO tidak memberikan rekomendasi untuk membatasi bepergian atau perdagangan ke negara-negara timur tengah, namun WHO menganjurkan untuk menghindari susu unta, daging yang tidak dimasak dengan baik, dan juga urin unta.
Di Indonesia sendiri guna menghadapi bahaya MERS, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan petugas kesehatan di 49 Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). KKP yang ditempatkan pada bandara Soekarno Hatta khususnya telah disiapkan untuk menghadapi bahaya MERS lewat simulasi dan pengadaan alat mutakhir.
"Tenda ini adalah tenda khusus, saya kira tidak dimiliki siapapun di Indonesia kecuali KKP. Setiap KKP bandara punya satu. Tendanya itu tekanan negatif yang artinya begitu tenda itu ditutup, lingkungan di dalam tenda akan menekan terjadinya infeksi karena kuman-kumannya tertekan sehingga dalam tenda itu pada prinsipnya aman dari penyebaran. Begitu juga ambulans kami, ambulans yang dipakai itu juga tekanan negatif khusus buat pengangkut pasien infeksi," ujar Sekretaris Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Mohammad Subuh, seperti yang telah diberitakan detikHealth sebelumnya.










































