Menurut studi tersebut, orang dewasa yang duduk menonton TV selama tiga jam atau lebih per hari bisa dua kali lipat berisiko mengalami kematian dini dibandingkan dengan mereka yang tidak. Akan tetapi, risiko yang sama tidak ditemukan pada orang-orang yang menghabiskan waktunya duduk berkendara atau menggunakan komputer.
Para peneliti menggunakan sampel subjek penelitian dengan usia di bawah 37 tahun untuk menyingkirkan faktor usia tua sebagai penyebab kematian. Para peneliti menganalisis data yang dikumpulkan dari 13.284 orang dewasa yang telah lulus dari universitas pada tahun 1999.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi memeriksa hubungan antara tiga jenis perilaku sedentary atau duduk terus menerus yaitu menonton TV, berkendara, dan menggunakan komputer kemudian dikaitkan dengan risiko kematian yang ada. Tim peneliti mengikuti peserta selama rata-rata delapan tahun dan menemukan 97 korban tewas. 19 akibat kardiovaskuler, 46 dari kanker, dan 32 dari penyebab lain.
Dibandingkan dengan orang-orang yang duduk menonton TV satu jam atau kurang, mereka yang menonton dua jam sehari memiliki risiko kematian dini 40 persen lebih tinggi. Bagi mereka yang menonton tiga jam atau lebih, risiko itu dua kali lipat lebih tinggi. Hasil tersebut memperhitungkan faktor lain seperti gaya hidup, diet, usia, berat badan, merokok, dan aktivitas fisik lainnya.
Martinez-Gonzalez namun mengingatkan bahwa penelitian ini tidak menunjukkan keterkaitan langsung melainkan korelasi antara menonton TV dan risiko kematian dini. Martinez-Gonzalez mengatakan bahwa aktivitas dan gaya hidup sedentary meningkatkan resistensi terhadap insulin, mengurangi massa tubuh, dan meningkatkan massa lemak.
"Aktivitas sedentary tersebut terkait dengan risiko tinggi diabetes, penyakit jantung dan beberapa jenis kanker, seperti usus besar, rektum, dan payudara," ujar Martinez-Gonzalez.
Penelitian ini memberikan penekanan pada pentingnya meningkatkan aktivitas. Dr Heather Johnson, ahli jantung dari University of Wisconsin School of Medicine and Public Health, mengatakan orang-orang yang saat ini tidak berolahraga sebaiknya harus mulai perlahan-lahan.
"Banyak studi menunjukkan hubungan antara tingkat aktivitas fisik yang tinggi dan tingkat risiko penyakit jantung dan kematian yang rendah," tutup Johnson.
(up/up)











































