Teknik Pembekuan Sperma Beri Peluang Penyandang Kanker untuk Punya Anak

Teknik Pembekuan Sperma Beri Peluang Penyandang Kanker untuk Punya Anak

- detikHealth
Kamis, 03 Jul 2014 07:11 WIB
Teknik Pembekuan Sperma Beri Peluang Penyandang Kanker untuk Punya Anak
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Penyandang kanker tak perlu lagi khawatir dengan berbagai pengobatan yang bisa memengaruhi sistem reproduksi. Sebab, kini terbuka peluang bagi penyandang kanker agar tetap bisa memiliki momongan dengan teknik terbaru yaitu pembekuan sperma.

Penelitian di Jepang menunjukan sampel testis beku dapat digunakan untuk menghasilkan keturunan. Eksperimen telah dilakukan pada tikus-tikus percobaan, seperti dikutip dari BBC, Kamis (3/7/2014). Hasilnya pun positif. Nah, rencanya di masa mendatang terobosan ini akan dimanfaatkan untuk laki-laki pengidap kanker yang mandul akibat kemoterapi.

Dalam penelitian ini, sampel sperma akan dibekukan sebelum pengobatan kanker dimulai. Hal ini tentunya untuk mengantisipasi kemandulan pada laki-laki pasca pengobatan. Pasalnya, pengobatan kanker seperti kemoterapi umumnya rentan merusak testis sehingga mengakibatkan kemandulan. Tapi hal ini tidak dapat dilakukan untuk anak laki-laki yang belum pubertas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam studi tersebut para ilmuwan membekukan sampel testis dari tikus. Kemudian dengan teknik reproduksi buatan, mereka menyuntikan sperma pada sel telur. Hasilnya, tikus betina hamil dan melahirkan generasi tikus yang sehat. Profesor Takehiko Ogawa dari Yokohama City University, mengatakan ini merupakan percobaan pertama kali terhadap hewan.

"Kami sekarang sedang mencoba pada sampel manusia. Tentunya jaringan tubuh manusia sangat berbeda dengan tikus. Sangat sulit untuk memprediksi berapa lama cara ini dapat diterapkan," ujar Prof Ogawa.

Dr Allan Pacey, pakar fertilitas dari Sheffield University mengatakan pembekuan sperma di laboratorium lebih steril dari transplantasi jaringan testis. Memang umumnya, pengidap kanker yang mandul akan melakukan transplantasi jaringan testis untuk memperoleh keturunan.

"Pembekuan ini bertujuan untuk menghindari kanker supaya tidak kembali. Risiko sel-sel kanker bersembunyi sangat mungkin terjadi ketika dilakukan transplantasi jaringan," kata Dr Pacey.

Hasil penelitian terhadap tikus ini positif dan diharapkan segera diuji pada manusia. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah menemukan jaringan testis untuk produksi sperma. Selain itu, perlu juga dipastikan laboratorium untuk menjamin bayi yang dilahirkan sehat dan normal secara genetik.

Apalagi, terdapat perbedaan antara sperma tikus dan manusia. Tikus telah memproduksi sperma semenjak masa awal hidupnya, sedangkan manusia saat memasuki masa pubertas. Perlu dipastikan pula testosteron pada manusia telah aktif dan sperma yang ditelaah juga subur.

(rdn/up)

Berita Terkait