Saat Perut Terasa Lapar dan Kenyang, Ini yang Terjadi di Dalam Tubuh

Saat Perut Terasa Lapar dan Kenyang, Ini yang Terjadi di Dalam Tubuh

- detikHealth
Jumat, 04 Jul 2014 10:00 WIB
Saat Perut Terasa Lapar dan Kenyang, Ini yang Terjadi di Dalam Tubuh
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Lapar tentu sudah menjadi respons yang kerap terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Nah, apa yang sebenarnya terjadi di dalam sistem pencernaan kala perut terasa lapar?

Meskipun sensasi lapar dan kenyang terdeteksi oleh daerah hipotalamus otak, sensasi lapar yang sebenarnya diproduksi di perut. Kontraksi yang Anda alami setelah makan dikendalikan oleh saraf dan hormon yang menghubungkan antara otak dan usus.

Ahli endokrinologi dari University of Adelaide, Prof Gary Wittert, mengatakan ada perilaku kompleks yang terlibat dalam 'pemuasan' rasa lapar, baik dengan respons mencari maupun mengonsumsi makanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satunya berupa hormon yang bertindak sebagai pembawa pesan kimiawi terkait dengan lapar, yakni hormon ghrelin," ungkap Prof Wittert, seperti dikutip dari ABC Australia, Jumat (4/7/2014).

Hormon ghrelin diproduksi di dalam perut dan berfungsi dengan memberitahu otak jika sudah tiba saatnya untuk makan. Tingginya kadar hormon ghrelin disebut Prof Wittert diproduksi ketika perut kosong, yang semakin meningkatkan juga nafsu makan kita.

"Setelah mengalami sensasi lapar, Anda kemudian akan makan. Di sinilah kemudian beberapa hal terjadi. Awalnya, makanan di dalam mulut memicu reseptor lidah dan mengirim sinyal ke otak untuk memberitahu ke seluruh tubuh bahwa makanan sudah tersedia," terang Prof Wittert.

Tubuh kemudian mempersiapkan diri untuk menampung makanan. Jika makanan yang dikonsumsi sudah cukup dan perut merasa cukup kenyang, maka secara otomatis akan ada kepuasan tersendiri.

"Setelah itu, hormon dalam usus mengoordinasikan makanan untuk dicerna dan menyimpan energi. Ia kemudian akan mengirim pesan ke reseptor dan menginformasikan otak bahwa sudah ada cukup energi yang didapat," tutup Prof Wittert.

(ajg/up)

Berita Terkait