Namun celakanya belum semua masyarakat Indonesia memahami tindakan pertolongan pertama atau bahkan memiliki kesadaran terhadap tindakan tersebut. Rendahnya kesadaran masyarakat dikatakan oleh Kepala Seksi SDM, Palang Merah Indonesia (PMI), Agus Bastian, memiliki keterkaitan terhadap tingginya angka kematian kecelakaan.
Agus mengakui bahwa memang sulit untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengetahuan pertolongan pertama di masyarakat. Ia mengatakan sebagian besar masyarakat tidak terlalu memikirkan hal tersebut karena mudah akses fasilitas kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal menurut Agus, saat terjadi kecelakaan dan korban mengalami trauma luka dan tidak sadarkan diri, 6 menit pertama setelah terjadi kecelakaan adalah masa emas untuk menolong korban sebelum terjadi kerusakan otak yang dapat mengakibatkan kematian. Waktu 6 menit tersebut tidak akan cukup bagi korban untuk menerima tindakan medis terdekat.
Hal-hal kecil lainnya juga dikatakan oleh Agus banyak salah dilakukan oleh masyarakat. “Orang kena knalpot dikasih odol, kecap, mentega, itu salah dan kontra dengan tindakan medis. Orang mimisan dikasih daun sirih ditengadahkan padahal harusnya merunduk, hal kecil itu yang harus kita sampaikan bagi masyarakat paling bawah sampai atas,” ujarnya.
Agus menambahkan, sebenarnya cukup mudah bagi masyarakat untuk menerima pelatihan. Cukup dengan menghubungi PMI cabang manapun, PMI siap membantu memberikan pelatihan. Ini sudah menjadi tugas wajib PMI.
“Ini tugas kita di PMI selain donor darah. Orang hanya tahu kalau lihat PMI itu donor darah. Kalau mau dilatih tinggal menghubungi PMI setempat untuk memperoleh pelatihan pertolongan pertama,” tutup Agus.
(up/up)











































