Akses Mudah, Kesadaran Masyarakat Terhadap Pertolongan Pertama Rendah

Akses Mudah, Kesadaran Masyarakat Terhadap Pertolongan Pertama Rendah

- detikHealth
Minggu, 06 Jul 2014 15:03 WIB
Akses Mudah, Kesadaran Masyarakat Terhadap Pertolongan Pertama Rendah
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - Mengetahui pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan atau bencana sangat menentukan terhadap kondisi korban. Ya, tindakan yang tepat dan cepat dapat menyelamatkan korban sesaat setelah terjadi kejadian.

Namun celakanya belum semua masyarakat Indonesia memahami tindakan pertolongan pertama atau bahkan memiliki kesadaran terhadap tindakan tersebut. Rendahnya kesadaran masyarakat dikatakan oleh Kepala Seksi SDM, Palang Merah Indonesia (PMI), Agus Bastian, memiliki keterkaitan terhadap tingginya angka kematian kecelakaan.

Agus mengakui bahwa memang sulit untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengetahuan pertolongan pertama di masyarakat. Ia mengatakan sebagian besar masyarakat tidak terlalu memikirkan hal tersebut karena mudah akses fasilitas kesehatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kalau kita merasa perlu pasti akan timbul keinginan untuk belajar pertolongan pertama. Orang sudah merasa dekat dengan fasilitas kesehatan, mereka merasa enggak perlu capai belajar. Sekalinya belajar tidak sesuai lah dengan waktunya sehingga orang juga malas,” kata Agus saat ditemui pada acara seminar pertolongan pertama di gedung PMI, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Minggu (6/7/2014).

Padahal menurut Agus, saat terjadi kecelakaan dan korban mengalami trauma luka dan tidak sadarkan diri, 6 menit pertama setelah terjadi kecelakaan adalah masa emas untuk menolong korban sebelum terjadi kerusakan otak yang dapat mengakibatkan kematian. Waktu 6 menit tersebut tidak akan cukup bagi korban untuk menerima tindakan medis terdekat.

Hal-hal kecil lainnya juga dikatakan oleh Agus banyak salah dilakukan oleh masyarakat. “Orang kena knalpot dikasih odol, kecap, mentega, itu salah dan kontra dengan tindakan medis. Orang mimisan dikasih daun sirih ditengadahkan padahal harusnya merunduk, hal kecil itu yang harus kita sampaikan bagi masyarakat paling bawah sampai atas,” ujarnya.

Agus menambahkan, sebenarnya cukup mudah bagi masyarakat untuk menerima pelatihan. Cukup dengan menghubungi PMI cabang manapun, PMI siap membantu memberikan pelatihan. Ini sudah menjadi tugas wajib PMI.

“Ini tugas kita di PMI selain donor darah. Orang hanya tahu kalau lihat PMI itu donor darah. Kalau mau dilatih tinggal menghubungi PMI setempat untuk memperoleh pelatihan pertolongan pertama,” tutup Agus.

(up/up)

Berita Terkait