Jakarta -
Setelah menikah, beberapa orang sulit mempertahankan kemesraan dalam hubungannya. Faktor usia dan kehadiran anak adalah salah satu faktor yang sering ditunjuk sebagai penyebab hilangnya rasa yang dulu pernah ada.
Tidak jarang hambarnya kehidupan rumah tangga menjadi pengancam hubungan rumah tangga itu sendiri. Menurut survei yang dilakukan oleh AOL Living pada tahun 2009 mengatakan 72% wanita pernah berpikir untuk cerai pada satu waktu dalam pernikahan mereka. Namun meski demikian, 71% wanita percaya akan tetap bersama suami hingga akhir hayat.
Mencegah perpisahan tersebut terjadi, berikut hal yang dapat dilakukan setelah menikah agar kemesraan tetap terjaga seperti dikutip dari CNN, Senin (7/7/2014).
1. Tetap Aktif
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Kebanyakan pasangan menikah pada umumnya berhenti berolahraga teratur setelah memiliki anak. Coba temukan cara baru untuk tetap aktif bersama pasangan, seperti memukul lapangan tenis atau hiking. Beberapa ahli mengatakan pasangan yang lebih sering berolahraga cenderung memiliki kehidupan seks yang lebih baik.
Tidak perlu mengambil olahraga berat, dengan bermain olahraga ringan yang membuat berkeringat sudah cukup untuk memperoleh manfaat. Para ahli mengatakan olahraga ringan membantu mencegah penyakit jantung dan penyakit lainnya.
2. <i>Curhat</i> (Sedikit) Pada Teman
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Meskipun pembicaraan rumah tangga pribadi biasanya tidak disebarkan, akan tetapi ada keuntungan yang dapat diperoleh dengan bercerita pada teman. Keuntungan tersebut dapat diperoleh dengan cara mendengar bagaimana orang-orang menghadapi permasalahan serupa.
Apakah itu mendengar bagaimana teman berurusan dengan perselingkuhan pasangannya atau rintangan besar lainnya, sedikit empati dapat membuat perspektif baru, namun tetap kontrol pembicaraan agar tidak meluas.
"Jelas bukan ide yang baik untuk mengatakan hal yang tidak perlu bahkan ke teman dekat Anda sendiri," ujar Andrew Goldstein, seorang dokter kandungan dan ginekolog di Johns Hopkins School of Medicine.
3. Temukan Kembali Satu Sama Lain
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Sebuah studi pada tahun 2008 menemukan bahwa kepuasan pernikahan meningkat saat anak meninggalkan rumah. Responden wanita mengatakan menghabiskan waktu yang lebih berkualitas dengan pasangan saat anak sedang tidak di tempat.
"Tiba-tiba perasaan tirani anak yang mengendalikan rumah tangga hilang. Anda tidak perlu makan malam pukul 6, tidak perlu menghabiskan akhir pekan di lapangan, dan tidak perlu merasa bertanggungjawab setiap waktu. Gunakan kebebasan baru tersebut untuk melanggar sedikit aturan dan temukan kembali apa yang Anda sukai tentang satu sama lain," ujar Ken Robbins, profesor psikiater dari University of Wisconsin.
4. Jadilah Pengasuh yang Baik
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
|
Jika terjadi serangan penyakit serius yang menyebabkan pasangan terbaring lemas, pasangan yang sehat terkadang mengembangkan rasa beban mengasuh dan menjadi sakit sendirinya. Sangat penting bagi yang merawat untuk pergi keluar bersosialisasi dengan teman, kenali keterbatasan dan minta bantuan saat dibutuhkan.
"Para pasangan yang sakit membutuhkan bantuan biasanya merasa bersalah dan frustrasi, pasangan yang sehat dan merawat terkadang merasa terbebani dan dikontrol oleh hal tersebut. Anda sebaiknya terbuka membicarakan masalah tersebut meskipun hal itu tidak membantu masalah penyakit," tutup Robbins.
Kebanyakan pasangan menikah pada umumnya berhenti berolahraga teratur setelah memiliki anak. Coba temukan cara baru untuk tetap aktif bersama pasangan, seperti memukul lapangan tenis atau hiking. Beberapa ahli mengatakan pasangan yang lebih sering berolahraga cenderung memiliki kehidupan seks yang lebih baik.
Tidak perlu mengambil olahraga berat, dengan bermain olahraga ringan yang membuat berkeringat sudah cukup untuk memperoleh manfaat. Para ahli mengatakan olahraga ringan membantu mencegah penyakit jantung dan penyakit lainnya.
Meskipun pembicaraan rumah tangga pribadi biasanya tidak disebarkan, akan tetapi ada keuntungan yang dapat diperoleh dengan bercerita pada teman. Keuntungan tersebut dapat diperoleh dengan cara mendengar bagaimana orang-orang menghadapi permasalahan serupa.
Apakah itu mendengar bagaimana teman berurusan dengan perselingkuhan pasangannya atau rintangan besar lainnya, sedikit empati dapat membuat perspektif baru, namun tetap kontrol pembicaraan agar tidak meluas.
"Jelas bukan ide yang baik untuk mengatakan hal yang tidak perlu bahkan ke teman dekat Anda sendiri," ujar Andrew Goldstein, seorang dokter kandungan dan ginekolog di Johns Hopkins School of Medicine.
Sebuah studi pada tahun 2008 menemukan bahwa kepuasan pernikahan meningkat saat anak meninggalkan rumah. Responden wanita mengatakan menghabiskan waktu yang lebih berkualitas dengan pasangan saat anak sedang tidak di tempat.
"Tiba-tiba perasaan tirani anak yang mengendalikan rumah tangga hilang. Anda tidak perlu makan malam pukul 6, tidak perlu menghabiskan akhir pekan di lapangan, dan tidak perlu merasa bertanggungjawab setiap waktu. Gunakan kebebasan baru tersebut untuk melanggar sedikit aturan dan temukan kembali apa yang Anda sukai tentang satu sama lain," ujar Ken Robbins, profesor psikiater dari University of Wisconsin.
Jika terjadi serangan penyakit serius yang menyebabkan pasangan terbaring lemas, pasangan yang sehat terkadang mengembangkan rasa beban mengasuh dan menjadi sakit sendirinya. Sangat penting bagi yang merawat untuk pergi keluar bersosialisasi dengan teman, kenali keterbatasan dan minta bantuan saat dibutuhkan.
"Para pasangan yang sakit membutuhkan bantuan biasanya merasa bersalah dan frustrasi, pasangan yang sehat dan merawat terkadang merasa terbebani dan dikontrol oleh hal tersebut. Anda sebaiknya terbuka membicarakan masalah tersebut meskipun hal itu tidak membantu masalah penyakit," tutup Robbins.
(up/up)