Ide ini digagas oleh Prof Meenakshi Balakrishnan, seorang ahli komputer dari Indian Institute of Technology. Ia dan timnya membuat tongkat khusus tunanetra yang dilengkapi ultrasound agar dapat memandu mereka ketika harus melalui trotoar India yang penuh PKL atau rambu jalan.
Prinsip kerja produk yang kemudian diberi nama 'Smartcane' ini sama seperti kelelawar. Bedanya, bila kelelawar memancarkan suara sonar, maka tongkat ini dapat memancarkan gelombang ultrasound melalui sebuah alat yang telah 'ditempelkan' di tongkatnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Manfaat yang sebenarnya berasal dari jarak scanning ultrasound-nya yang bisa mencapai 45 derajat di atas lutut sehingga dapat memberikan informasi yang tak bisa didapatkan dari alat bantu lain," kata Prof Balakrishnan seperti dikutip dari CNN, Selasa (8/7/2014).
Dan beda jarak benda dengan posisi pengguna, beda pola dan intensitas vibrasi yang masuk ke Smartcane-nya. Yang tak kalah menarik, Smartcane dapat mengetahui apakah ada benda di depannya atau tidak meskipun jaraknya sejauh tiga meter.
Sejatinya Smartcane bukanlah teknologi pertama yang memanfaatkan ultrasound untuk membantu para tunanetra berjalan. Sebelumnya Ultracane sudah lebih dulu dipasarkan di Korea Selatan, Taiwan dan Inggris sejak tahun 2011.
Namun karena harganya masih terlampau mahal, yakni 1.000 dollar Amerika (sekitar Rp 11,6 juta). Untuk itu Prof Balakrishnan dan timnya mencoba membuat alat bantu yang canggih tapi juga terjangkau.
"Kami memang menargetkan para tunanetra di negara berkembang, dimulai dari India. Lagipula kalau di negara kaya kan trotoarnya lebih lebar dan relatif aman untuk pejalan kaki, sedangkan di India (trotoarnya) terlalu ramai oleh PKL, rambu-rambu jalan dan halangan lain sehingga tunanetra jadi enggan keluar rumah," tuturnya.
Setelah sukses diujicoba oleh 150 tunanetra dari penjuru India, Smartcane kini sudah tersedia dengan harga hanya 50 dollar Amerika (Rp 585.000).
(lil/up)











































