"Suplemen baik pada saat puasa atau tidak dibuthkan saat makanan sehari-hari kita tidak cukup. Kapan? saat seseorang itu kebutuhan gizinya tinggi, misalnya saat hamil menyusui, anak dalam masa pertumbuhan, atlet, olahragawan kan kebutuhannya tinggi," terang ahli gizi Rita Ramayulis DCN, MKes.
Tetapi, bagi pekerja orang kantoran dikatakan Rita bisa kebutuhan gizinya tidak terlalu tinggi dan bisa dipenuhi melalui makanan sehari-hari. Sehingga, suplemen pun tidak diperlukan. Sebaliknya, suplemen dibutuhkan ketika seseorang tidak mampu mendapat makanan yang seimbang dari makanan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditekankan dosen jurusan Gizi Poiliteknik Kesehatan II Jakarta ini, selagi bisa menerapkan gizi seimbang dan kebutuhan gizi sehari-harinya dapat tercukupi, puasa atau tidak suplemen tidak dibutuhkan. Dengan kata lain, suplemen berguna untuk mencukupi zat gizi yang tidak bisa dicukupi.
Rita mencontohkan, ketika wanita sedang menstruasi, sejatinya ia perlu mengonsumsi makanan dengan kandungan zat besi seperti daging merah, kacang-kacangan, tempe, dan sayuran hijau. Tetapi, ketika yang bersangkutan hanya memilih lauk hewani, mau tidak mau ia harus minum suplemen zat besi karena saat itu kondisi kebutuhan zat besinya tinggi tapi pemilihan hidangannya tidak sesuai.
Saat berpuasa, disebutkan Rita orang yang bekerja di pertambangan butuh elektrolit tinggi yang bisa didapat dari sari buah. Jika sulit mendapatkan sari buah, minuman isotonic bisa menjadi alternatif.
"Kita tidak akan butuh suplemen saat mampu mengonsumsi makanan beraneka ragam karena tidak ada zat yang kurang. Kecuali pada kondisi tertentu seperti ibu hamil dan menyusui, karena kebutuhan zat besinya tinggi maka dia perlu suplemen zat besi," tutup Rita.
(rdn/up)











































