Makanan Penangkal 'Gangguan Jiwa' Saat Nonton Drama Piala Dunia

Makanan Penangkal 'Gangguan Jiwa' Saat Nonton Drama Piala Dunia

- detikHealth
Kamis, 10 Jul 2014 17:44 WIB
Makanan Penangkal Gangguan Jiwa Saat Nonton Drama Piala Dunia
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Beberapa perubahan pola makan ternyata dapat meningkatkan fungsi kognitif dan mengurangi gejala stres, depresi, cemas dan gangguan kesehatan mental lainnya. Cocok dikonsumsi pada musim Piala Dunia yang penuh drama.

Seperti otak, usus juga memiliki sistem saraf sendiri. Saraf tersebut biasanya mengirimkan informasi ke otak melalui saraf vagus. Itulah mengapa kadang Anda mungkin merasa mual ketika Anda sedang stres atau perut mulas saat gugup. Apa yang ada di dalam usus sangat mempengaruhi fungsi otak.

Berikut ini makanan membantu meningkatkan kesehatan jiwa Anda, seperti telah dirangkum detikHealth, Kamis (10/7/2014).

1. Asam lemak omega-3

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Kekurangan asam lemak omega-3 seperti docosahexaenoic acid (DHA) dan eicosapentanoic acid (EPA) dapat berpengaruh negatif terhadap fungsi otak. Tingginya lemak trans dan lemak jenuh juga memiliki implikasi serupa. Otak manusia sebagian besar terdiri dari lemak. Sedangkan tubuh kita tidak bisa memproduksi asam lemak esensial. Oleh karena itu, otak sangat bergantung pada makanan yang kaya omega-3 untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam penelitian Standart American Diet, makanan tinggi asam lemak omega-3, seperti salmon, sarden, dan rumput laut, terbukti mengurangi gejala skizofrenia, depresi, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan gangguan mental lainnya.

Hal ini karena efek omega-3 terhadap produksi neurotransmitter, termasuk dopamin dan serotonin. Zat kimia dalam otak inilah yang bertanggung jawab terhadap suasana hati. Karena mendukung sinapsis di otak, omega-3 juga meningkatkan pembelajaran dan memori.

2. Biji-bijian

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Sumber utama energi untuk otak adalah glukosa yang berasal dari karbohidrat. Karbohidrat yang sederhana justru memperburuk mood dan menciptakan lonjakan gula darah. Gula darah yang bergejolak berakibat mirip dengan penyalahgunaan obat pada otak.

Sebaliknya, glukosa kompleks yang diolah karbohidrat secara perlahan justru membuat kenyang lebih lama. Glukosa turut menyediakan sumber tetap dari bahan bakar untuk otak dan tubuh. Sumber sehat karbohidrat kompleks meliputi produk gandum, nasi, kacang-kacangan dan kedelai.

3. Protein

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Makanan dalam tubuh dipecah menjadi zat untuk membuat neurotransmitter dan bahan kimia lain untuk berkomunikasi dengan seluruh bagian tubuh. Protein merupakan zat yang paling berlimpah di dalam tubuh. Asam amino tryptophan dapat mempengaruhi suasana hati dengan memproduksi serotonin neurotransmitter.

Serotonin erat kaitannya dengan depresi. Sumber protein tanpa lemak, termasuk ikan, kalkun, ayam, telur dan kacang-kacangan, membantu menjaga kadar serotonin yang seimbang. Protein juga meningkatkan fungsi kognitif secara keseluruhan.

4. Sayuran Hijau

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Sayuran berdaun hijau seperti bayam, lobak, sawi, dan brokoli tinggi akan asam folat. Kekurangan asam folat serta vitamin B erat kaitannya dengan tingkat depresi yang tinggi, kelelahan dan insomnia.

Brokoli sendiri mengandung selenium dan mineral yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Selenium juga berfungsi untuk metabolisme hormon tiroid. Beberapa studi menunjukkan, rendahnya tingkat selenium menyebabkan depresi dan kecemasan. Sumber-sumber selenium juga terdapat pada ayam, bawang, dan kacang kenari.

5. Yogurt

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Makanan fermentasi seperti yogurt, tempe dan tahu mengandung probiotik (bakteri sehat) yang dapat mengurangi stres hormon. Dengan rendahnya stres hormon, tentunya Anda akan menjadi lebih rileks dan dapat berpikir jernih. Sebaliknya, terlalu banyak makan makanan olahan dapat mengganggu keseimbangan bakteri sehat dan tidak sehat di dalam usus.
Halaman 2 dari 6
Kekurangan asam lemak omega-3 seperti docosahexaenoic acid (DHA) dan eicosapentanoic acid (EPA) dapat berpengaruh negatif terhadap fungsi otak. Tingginya lemak trans dan lemak jenuh juga memiliki implikasi serupa. Otak manusia sebagian besar terdiri dari lemak. Sedangkan tubuh kita tidak bisa memproduksi asam lemak esensial. Oleh karena itu, otak sangat bergantung pada makanan yang kaya omega-3 untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam penelitian Standart American Diet, makanan tinggi asam lemak omega-3, seperti salmon, sarden, dan rumput laut, terbukti mengurangi gejala skizofrenia, depresi, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan gangguan mental lainnya.

Hal ini karena efek omega-3 terhadap produksi neurotransmitter, termasuk dopamin dan serotonin. Zat kimia dalam otak inilah yang bertanggung jawab terhadap suasana hati. Karena mendukung sinapsis di otak, omega-3 juga meningkatkan pembelajaran dan memori.

Sumber utama energi untuk otak adalah glukosa yang berasal dari karbohidrat. Karbohidrat yang sederhana justru memperburuk mood dan menciptakan lonjakan gula darah. Gula darah yang bergejolak berakibat mirip dengan penyalahgunaan obat pada otak.

Sebaliknya, glukosa kompleks yang diolah karbohidrat secara perlahan justru membuat kenyang lebih lama. Glukosa turut menyediakan sumber tetap dari bahan bakar untuk otak dan tubuh. Sumber sehat karbohidrat kompleks meliputi produk gandum, nasi, kacang-kacangan dan kedelai.

Makanan dalam tubuh dipecah menjadi zat untuk membuat neurotransmitter dan bahan kimia lain untuk berkomunikasi dengan seluruh bagian tubuh. Protein merupakan zat yang paling berlimpah di dalam tubuh. Asam amino tryptophan dapat mempengaruhi suasana hati dengan memproduksi serotonin neurotransmitter.

Serotonin erat kaitannya dengan depresi. Sumber protein tanpa lemak, termasuk ikan, kalkun, ayam, telur dan kacang-kacangan, membantu menjaga kadar serotonin yang seimbang. Protein juga meningkatkan fungsi kognitif secara keseluruhan.

Sayuran berdaun hijau seperti bayam, lobak, sawi, dan brokoli tinggi akan asam folat. Kekurangan asam folat serta vitamin B erat kaitannya dengan tingkat depresi yang tinggi, kelelahan dan insomnia.

Brokoli sendiri mengandung selenium dan mineral yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Selenium juga berfungsi untuk metabolisme hormon tiroid. Beberapa studi menunjukkan, rendahnya tingkat selenium menyebabkan depresi dan kecemasan. Sumber-sumber selenium juga terdapat pada ayam, bawang, dan kacang kenari.

Makanan fermentasi seperti yogurt, tempe dan tahu mengandung probiotik (bakteri sehat) yang dapat mengurangi stres hormon. Dengan rendahnya stres hormon, tentunya Anda akan menjadi lebih rileks dan dapat berpikir jernih. Sebaliknya, terlalu banyak makan makanan olahan dapat mengganggu keseimbangan bakteri sehat dan tidak sehat di dalam usus.

(up/up)

Berita Terkait