Nyaris Gagal Jantung, Pria Ini Sehat Kembali dengan Sel Punca Jantung

Nyaris Gagal Jantung, Pria Ini Sehat Kembali dengan Sel Punca Jantung

- detikHealth
Minggu, 13 Jul 2014 10:00 WIB
Nyaris Gagal Jantung, Pria Ini Sehat Kembali dengan Sel Punca Jantung
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Los Angeles - Saat mengenyam pendidikan dokter, Gerald Karpman diajari bahwa kerusakan yang terjadi akibat serangan jantung bersifat permanen. Akan tetapi Karpman tak pernah menyangka akan mengalami kondisi serupa beberapa tahun kemudian.

Pagi itu, Karpman tengah duduk di depan komputer di rumahnya. Tiba-tiba ada rasa nyeri yang 'menendang' dari dalam dadanya.

"Hanya dalam waktu 30 detik, saya merasakan ketidaknyamanan yang ekstrim. Saya tak bisa duduk diam, bahkan untuk berkendara ke rumah sakit. Saya tak bisa mengenakan sabuk pengaman, bahkan sakitnya melebihi batu ginjal yang dulu pernah saya alami," kisah Karpman seperti dikutip dari CNN, Minggu (13/7/2014).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beruntung Karpman bisa sampai ke Los Robles Hospital and Medical Center, Thousand Oaks tepat waktu. Tim dokter segera menggunakan stent untuk membuka arteri dalam jantungnya dan menyelamatkan nyawa pria malang itu.

Namun ketika memasuki masa pemulihan, ia tak kuasa menerima kenyataan pahit bahwasanya hampir 20 persen otot jantung Karpman telah mati karena kehabisan oksigen.

Ukuran kemampuan jantungnya untuk memompa pun berada di bawah rata-rata. Yang seharusnya berkisar antara 55-70, jantung Karpman hanya sanggup mencapai poin 30. Bahkan kerusakan itu menyebabkan Karpman berisiko tinggi mengalami gagal jantung.

Hampir tak ada harapan, Karpman mendengar di Cedars-Sinai Medical Center, Los Angeles ada seorang ahli jantung yang sedang melakukan percobaan untuk membantu pasien seperti Karpman.

Dalam terapinya, ahli jantung bernama Dr Eduardo Marban itu memanfaatkan sel punca yang diambil dari jantung pasien sendiri dengan cara biopsi. Setelah itu, sel-sel tersebut dikembangbiakkan di dalam lab selama 2-3 minggu, untuk kemudian dimasukkan kembali ke jantung si pasien menggunakan kateter.

"Pada tubuh organisme hidup, sel-sel itu bekerja seperti isi ulang baterai. Setelah diinfus masuk ke tubuh, sel-sel baru itu memicu tubuh untuk memproduksi jaringan baru; otot dan sel-sel darah baru," terang Dr Marban.

Namun Dr Marban mengembangkan pendekatan yang berbeda, terutama untuk menghindari prosedur biopsi. Dengan kata lain ia memanfaatkan sel punca dari jantung donor. Jadi sel punca yang akan ia infuskan ke dalam tubuh pasien yang nyaris gagal jantung seperti Karpman adalah sel-sel dari organ donor yang terbaik dan paling kuat.

Dengan pendekatan ini, pasien Dr Marban juga diuntungkan karena hanya perlu menjalani satu prosedur saja. Sehingga setelah serangan jantung terjadi, pasien bisa langsung segera diinfus dengan sel-sel baru. Hal ini sudah barang tentu juga akan mempercepat proses pemulihan.

Tanpa pikir panjang, Karpman pun mendaftar agar bisa ikut dalam percobaan Dr Marban dan ia diterima. Akan tetapi prosedur infus sel untuk Karpman baru diselenggarakan awal tahun ini.

Secara mengejutkan, 9 minggu setelah infus, Karpman sudah bisa berjalan sejauh 6 km lebih dalam sehari. Padahal ia tak tahu apakah ia termasuk pasien yang benar-benar diberi infus sel atau plasebo saja.

"Saya tak tahu apakah ini efek plasebo atau sel punca. Saya tak terlalu memikirkannya. Yang penting saya bahagia karena kondisi saya sudah jauh lebih baik," tuturnya.

(lil/up)

Berita Terkait