WHO serta beberapa lembaga bantuan medis internasional lainnya sebenarnya sudah mengirim tim ahli untuk memberikan bantuan tenaga medis dengan harapan dapat mengurangi jumlah kasus dan korban meninggal di negara tersebut. Akan tetapi, upaya-upaya tersebut nampaknya malah mendapat reaksi negatif dari masyarakat.
Marc Poncin, koordinator bagian gawat darurat dari Medecins Sans Frontiers (MSF), salah satu lembaga bantuan medis asal Prancis, mengatakan bahwa ia melihat bagaimana sikap masyarakat yang penuh penolakan. Rasa tidak percaya, intimidasi serta perlakuan kasar dari masyarakat bahkan sering dirasakan tidak hanya oleh dirinya, namun juga pada banyak relawan medis lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilanjutkan Poncin, penolakan masyarakat terjadi akibat adanya kesalahpahaman tentang perawatan yang dilakukan oleh relawan. Sebagian besar pasien yang dirawat di rumah sakit atau klinik darurat meninggal dunia. Sehingga banyak masyarakat yang akhirnya takut dan menganggap bahwa pergi ke rumah sakit sama saja dengan membiarkan diri untuk mati.
Padahal tak seperti itu. Poncin mengatakan bahwa prevalensi kematian akibat Ebola memang cukup tinggi. Namun Ebola masih bisa disembuhkan jika diberi penanganan sejak pertama kali tertular. Masalahnya, masyarakat datang ke rumah sakit ketika virus sudah menjalar ke seluruh tubuh dan penyakit memasuki stadium lanjut.
Manuel Fontaine, Direktur Regional UNICEF untuk Afrika Barat dan Tengah mengatakan bahwa sangat penting mendapatkan kepercayaan dari masyarakat demi suksesnya penanganan Ebola. Selain itu, mitos-mitos dan kesalahpahaman soal penyakit penyakit tersebut juga harus dihilangkan.
"Penyebaran informasi yang benar harus dilakukan ke berbagai tempat. Kami harus mengetuk pintu seluruh masjid, gereja serta mengunjungi pasar agar masyarakat tidak menyepelekan penyakit ini," ungkapnya.
(up/up)











































