Penolakan Masyarakat Jadi Alasan Sulitnya Penanganan Ebola di Afrika

Penolakan Masyarakat Jadi Alasan Sulitnya Penanganan Ebola di Afrika

- detikHealth
Senin, 14 Jul 2014 12:32 WIB
Penolakan Masyarakat Jadi Alasan Sulitnya Penanganan Ebola di Afrika
salah satu RS yang sepi di Sierra Leone (Foto: Reuters)
Jakarta - Virus Ebola yang muncul sejak akhir bulan Februari lalu masih menjadi momok mematikan bagi masyarakat Afrika Barat. Tiga negara yakni Guinea, Liberia dan Sierra Leone menjadi korban ganasnya virus tersebut dengan jumlah meninggal 539 orang dari 888 kasus.

WHO serta beberapa lembaga bantuan medis internasional lainnya sebenarnya sudah mengirim tim ahli untuk memberikan bantuan tenaga medis dengan harapan dapat mengurangi jumlah kasus dan korban meninggal di negara tersebut. Akan tetapi, upaya-upaya tersebut nampaknya malah mendapat reaksi negatif dari masyarakat.

Marc Poncin, koordinator bagian gawat darurat dari Medecins Sans Frontiers (MSF), salah satu lembaga bantuan medis asal Prancis, mengatakan bahwa ia melihat bagaimana sikap masyarakat yang penuh penolakan. Rasa tidak percaya, intimidasi serta perlakuan kasar dari masyarakat bahkan sering dirasakan tidak hanya oleh dirinya, namun juga pada banyak relawan medis lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka tidak lagi mencari bantuan medis, desa-desa menutup diri dan tidak mengijinkan kami masuk. Belum lagi banyak keluarga yang menyembunyikan pasien," ujar Poncin seperti dikutip dari Reuters, Senin (14/7/2014).

Dilanjutkan Poncin, penolakan masyarakat terjadi akibat adanya kesalahpahaman tentang perawatan yang dilakukan oleh relawan. Sebagian besar pasien yang dirawat di rumah sakit atau klinik darurat meninggal dunia. Sehingga banyak masyarakat yang akhirnya takut dan menganggap bahwa pergi ke rumah sakit sama saja dengan membiarkan diri untuk mati.

Padahal tak seperti itu. Poncin mengatakan bahwa prevalensi kematian akibat Ebola memang cukup tinggi. Namun Ebola masih bisa disembuhkan jika diberi penanganan sejak pertama kali tertular. Masalahnya, masyarakat datang ke rumah sakit ketika virus sudah menjalar ke seluruh tubuh dan penyakit memasuki stadium lanjut.

Manuel Fontaine, Direktur Regional UNICEF untuk Afrika Barat dan Tengah mengatakan bahwa sangat penting mendapatkan kepercayaan dari masyarakat demi suksesnya penanganan Ebola. Selain itu, mitos-mitos dan kesalahpahaman soal penyakit penyakit tersebut juga harus dihilangkan.

"Penyebaran informasi yang benar harus dilakukan ke berbagai tempat. Kami harus mengetuk pintu seluruh masjid, gereja serta mengunjungi pasar agar masyarakat tidak menyepelekan penyakit ini," ungkapnya.

(up/up)

Berita Terkait