Selasa, 15 Jul 2014 17:41 WIB

Anti Lemas Saat Puasa

Berbuka di Jalan, Bolehkah Membatalkan Puasa dengan Makan Permen?

- detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Karena macet, biasanya seseorang bisa berbuka di jalan, baik mampir di warung, di kendaraan umum, atau kendaraan pribadi. Ketika tak ada makanan pembuka, terkadang permen pun dijadikan pilihan untuk membatalkan puasa.

Apalagi mengingat permen cenderung manis dan dianggap bisa menaikkan kadar gula darah setelah seharian berpuasa. Sebenarnya, bolehkah membatalkan puasa dengan permen?

"Permen tidak dianjurkan untuk berbuka puasa karena penelitian mengatakan permen itu kebanyakan sensitif terhadap asam lambung sehingga nanti asam lambung diproduksi tinggi. Saat di rumah timbul keluhan perut kita nggak nyaman," jelas ahli gizi Rita Ramayulis, DCN, MKes.

Dikatakan Rita, permen prinsipnya sama seperti gorengan yang sangat sensitif terhadap asam lambung. Oleh karena itu, bagi orang yang sering berbuka dalam perjalanan pulang dari kantor, Rita menyarankan sebaiknya bawa persiapan makanan.

"Di dalam tas sediakan air putih, air isotonik, atau air buah dalam kemasan rapat. Sediakan kue yang gampang kita bawa jadi saat bedug kita harus awali dengan minum air lalu makanan yang manis," kata Rita kepada detikHealth dan ditulis pada Selasa (15/7/2014).

Makanan pembuka yang bisa dijadikan pilihan di antaranya cracker, kurma, biskuit, atau minuman yang mengandung gula tapi dalam jumlah terbatas. Rita menekankan, jangan perlambat waktu berbuka. Sebab, menjelang berbuka kadar glukosa menurun.

Saat tengah hari, makanan yang dicerna di lambung dan usus sudah habis. Sehingga sejak pukul 12.00 sampai 18.00 terjadi penurunan kadar glukosa darah. Hal terpenting, sempatkan dulu minum air putih dan mengonsumsi camikan agat glukosa darah kembali normal.

"Justru kalau ditunda lebih lama bukanya, bahaya untuk kestabilan gula darah, bisa hipoglikemi. Saat bedug kan di pikiran kita tahu sudah boleh makan, sinyal ingin makan pun diproduksi tapi nggak ada yang bisa kita makan akibatnya berisiko hipoglikemi," terang dosen jurusan Gizi Poltekkes II Jakarta ini.

(rdn/ajg)