Obat yang diungkap 'khasiatnya' oleh tim peneliti dari German Center for Neurodegenerative Disease ini adalah obat untuk penderita diabetes tipe 2, yaitu pioglitazone. Pioglitazone kemudian dijual dengan nama Actos oleh perusahaan farmasi asal Jepang, Takeda Pharmaceutical Co Ltd.
Dalam riset tersebut, peneliti melibatkan 146.000 pasien berusia 60 ke atas yang awalnya tidak mengidap demensia alias kepikunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira ini karena obat sakit gula tersebut membantu mengurangi besarnya peradangan di otak dan sistem saraf, meski mungkin efek lain dari obat ini juga berperan di sini," tutur peneliti Anne Fink dari German Center for Neurodegenerative Disease seperti dikutip dari Reuters, Rabu (16/7/2014).
Studi sebelumnya juga mengemukakan pasien diabetes tipe 2 yang memiliki kontrol gula darah yang buruk lebih cenderung terserang demensia. Namun apabila mereka kerap mengonsumsi obat diabetes seperti Actos, maka risiko Alzheimernya akan langsung drop sebesar 20 persen. Ini bahkan lebih tinggi daripada bila si pasien hanya memakai insulin.
Takeda sebagai pemilik merk Actos juga tengah menggelar riset khusus terkait kehebatan obat ciptaannya dalam mencegah Alzheimer. Riset yang rencananya akan dilangsungkan selama lima tahun itu sudah mulai dilaksanakan tahun lalu, bekerjasama dengan Zinfandel Pharmaceutical Inc.
Keduanya bermaksud mengetahui apakah pioglitazone dalam dosis rendah sudah cukup mampu menunda munculnya gejala penurunan kognitif ringan akibat Alzheimer.
Salah satu peneliti dari Takeda yang terlibat, Stephen Brannan, yakin pioglitazone akan membantu mencegah Alzheimer dengan cara meningkatkan fungsi mitokondria, atau 'pembangkit tenaga listrik sel'.
"Makin efisien mitokondrianya, maka fungsi otak juga makin tajam sehingga Alzheimer takkan mampir ke tubuh," tutup Brannan.
(lil/ajg)











































