Kondisi langka yang melanda keluarga tersebut pertama kali ditemukan oleh ahli biologi Turki, Uner Tan pada tahun 2005, yang kemudian sindrom tersebut dinamai sindrom Uner Tan. Salah satu peneliti sejawat Uner Tan menemukan adanya mutasi pada gen keluarga Turki tersebut yang kemudian ia presentasikan pada konferensi European Society of Human Genetics di Barcelona.
Awalnya para peneliti berpikir ini adalah bukti nyata evolusi mundur. Pada teori evolusi dikatakan manusia dan primata lainnya berasal dari nenek moyang yang sama dan teori evolusi mundur mengatakan manusia akan kembali lagi menjadi primata awal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tahu bahwa orang dengan kecacatan gen sering mengalami masalah pada perkembangan otaknya termasuk pada bagian otak yang mengatur keseimbangan badan. Para anggota keluarga ini pada dasarnya merangkak karena alasan tersebut, bukan karena mereka memiliki gen yang membuat manusia berjalan dengan tangan dan kaki," kata Humprey, dikutip dari BBC, Senin (21/7/2014).
Bantahan pada teori evolusi mundur juga dikatakan oleh para peneliti dari Inggris setelah melakukan studi terbaru terkait keluarga tersebut. Para anggota keluarga yang berjalan merangkak menitikberatkan beban tubuh pada pergelangan tangan, tidak seperti primata lainnya yang menempatkan beban tubuh saat berjalan pada buku jari.
Selain kehilangan keseimbangan, sindrom Uner Tan juga mempengaruhi fungsi kognitif penyandangnya. Anggota keluarga yang mengidap sindrom tersebut tidak bisa berbicara dengan lancar dan kesulitan menjawab jika ditanya.











































