Akan tetapi Wakil Menteri Kesehatan Prof Ali Gufron Mukti mengatakan bahwa mulai tahun 2015, penggunaan vaksin oral akan dikurangi. Hal ini untuk mengikuti saran dari rapat regional WHO Asia Tenggara di New Delhi beberapa hari lalu.
"Rapat High Level Prepatory Meeting WHO SEARO (South-East Asia Region/Regional Asia Tenggara-red) di New Delhi 14-18 Juli kemarin membahas salah satunya tentang pemberantasan polio. Salah satu anjurannya adalah mengganti penggunaan vaksin oral dengan vaksin inject atau suntik untuk imunisasi polio," tutur Prof Gufron kepada wartawan di Gedung Kementerian Kesehatan, seperti ditulis Rabu (23/7/2014).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilanjutkan Prof Gufron, tidak ada perbedaan keampuhan antara kedua vaksin tersebut. Risikonya terletak pada kondisi virus itu sendiri. Pada vaksin oral, virus dapat keluar lagi dari tubuh melalui BAB.
"Masalahnya kan kalau BAB sembarangan, virusnya hidup nanti bersinggungan dengan virus atau elemen lain, bikin varian baru. Makanya lebih baik menggunakan vaksin suntik," sambungnya lagi.
Namun penggunaan vaksin suntik ini pun bukan tanpa hambatan. Pasalnya Indonesia melalui perusahaan Bio Farma merupakan salah satu produsen vaksin polio oral terbesar di Asia Tenggara. Bahkan produksi vaksin oral dari Bio Farma sudah diekspor ke beberapa negara tetangga.











































